Alphonso Davies Siap Balas Dendam di Stadion Mimpi Buruknya
Baca dalam 60 detik
- Kapten Timnas Kanada Alphonso Davies akan tampil di Piala Dunia 2026 setelah pulih dari cedera ACL yang diderita di stadion yang sama setahun lalu.
- Davies melewatkan fase grup karena cedera hamstring, namun kini dinyatakan siap oleh pelatih Jesse Marsch untuk laga 32 besar melawan Afrika Selatan.
- Kembalinya Davies diharapkan menjadi pembeda bagi Kanada yang pertama kali lolos ke fase gugur Piala Dunia.

Alphonso Davies, bintang Bayern Munich, akan kembali ke stadion yang menjadi saksi cedera terparahnya untuk membela Kanada di babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan, Jumat (28/6) waktu setempat. Pemain berusia 25 tahun itu dipastikan tampil setelah melewatkan tiga laga grup akibat cedera hamstring, dan siap menuntaskan misi yang terhenti setahun lalu.
Pada Maret 2025, Davies mengalami cedera anterior cruciate ligament (ACL) saat memperkuat Kanada melawan Amerika Serikat di Los Angeles Stadium. Cedera itu membutuhkan waktu delapan bulan pemulihan dan membuatnya absen lama. Kini, setelah menjalani rehabilitasi ekstra akibat cedera hamstring, pemain sayap kiri itu mengaku tidak lagi dibayangi trauma. “Saya tidak terlalu memikirkannya. Cedera bisa terjadi di mana saja. Kembali ke stadion ini, saya bisa menyelesaikan apa yang saya mulai tahun lalu,” ujarnya dalam konferensi pers.
Pelatih Jesse Marsch enggan memastikan berapa menit Davies akan dimainkan, namun menyebutnya sebagai “faktor X” yang bisa mengubah permainan. “Alphonso adalah bakat besar. Kualitas dinamis yang ia bawa membuat kami lebih baik. Lebih dari itu, efek kepercayaan diri yang ia berikan kepada tim bisa mengubah potensi kami di turnamen ini,” kata Marsch. Kanada sendiri untuk pertama kalinya melaju ke fase gugur Piala Dunia, sebuah capaian yang dianggap sebagai momentum bersejarah.
Davies mengaku berat menonton rekan setimnya dari bangku cadangan selama fase grup. “Saya sangat ingin bermain. Setelah pertandingan ketiga, saya meminta Marsch untuk memberi saya beberapa menit. Tapi dia peduli dengan kondisi saya dan menjelaskan bahwa saya belum siap secara progresi. Sulit mendengarnya,” kenang Davies. Meski demikian, ia memuji dukungan puluhan ribu suporter Kanada di Toronto dan Vancouver yang membuatnya terharu. “Saya ingat saat berusia 17 tahun berbicara di Kongres FIFA untuk membawa Piala Dunia ke Kanada. Melihatnya terwujud dan bermain di depan ribuan pendukung sendiri sungguh luar biasa,” tambahnya.
Laga melawan Afrika Selatan akan menjadi ujian mental bagi kedua tim yang sama-sama belum pernah menang di fase gugur. Marsch optimistis dengan pengalaman Davies di pentas Liga Champions. “Kami akan menghadapi kesulitan, kesuksesan, dan tantangan. Kuncinya adalah siap menghadapi semuanya. Saya hidup untuk momen seperti ini,” tegasnya. Pertanyaan besarnya: akankah Davies mampu menjadi pahlawan dan membawa Kanada melaju lebih jauh?



