Klaim Kuantum Microsoft Dipertanyakan Lagi: Ilmuwan Temukan Cacat Data
Baca dalam 60 detik
- Kritik baru di jurnal Nature menyebut perangkat lunak klaim Microsoft untuk mendeteksi celah kuantum menghasilkan data tidak konsisten dan menyesatkan.
- Microsoft membela diri dengan menyebut perangkat lunak itu alat praktis yang sudah digunakan pada chip kuantum mereka, namun para fisikawan independen meragukan fondasi ilmiah pendekatan Majorana.
- Kontroversi ini berpotensi memperlambat ambisi Microsoft memiliki sistem kuantum komersial pada 2029, sementara pesaing seperti IBM dan Google sudah menggunakan teknologi yang lebih mapan.

Kritik baru dari fisikawan University of St Andrews kembali mengguncang klaim terobosan komputasi kuantum Microsoft yang menjadi dasar target perusahaan menghadirkan sistem kuantum komersial pada 2029. Dalam artikel yang diterbitkan di jurnal Nature, Henry Legg menuding perangkat lunak yang dikembangkan Microsoft untuk mendeteksi celah energi pada kawat konduktif menghasilkan temuan yang tidak konsisten dan dilaporkan secara keliru.
Komputasi kuantum dianggap mampu memecahkan masalah yang mustahil dijangkau komputer konvensional, termasuk dalam kriptografi dan simulasi molekuler. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump telah mengucurkan 2 miliar dolar AS untuk riset ini dan menargetkan sistem kuantum ilmiah berfungsi pada 2028. Namun, pendekatan Microsoft berbeda dari raksasa teknologi lain seperti IBM dan Google yang menggunakan teknologi kuantum yang lebih mapan. Microsoft memilih jalur eksperimental dengan partikel Majorana, yang keberadaannya belum terbukti secara meyakinkan.
Inti perdebatan terletak pada makalah Microsoft di Nature pada Februari 2025 yang mengklaim perangkat lunak mereka mampu mengidentifikasi celah energi kecil pada kawat superkonduktor. Celah ini penting untuk menciptakan qubit yang lebih stabil, unit dasar komputer kuantum yang sangat rapuh. Namun, Legg menemukan bahwa perangkat lunak tersebut menghasilkan hasil yang tidak konsisten, dan ketika dataset yang lebih luas dianalisis, yang muncul hanyalah derau acak tanpa bukti celah yang diklaim. "Ini seperti mencari gambar Yesus di atas roti panggang dengan memeriksa seluruh toko roti," ujar Legg kepada Reuters.
Dalam tanggapan resmi di Nature dan wawancara dengan Reuters, Microsoft membela penelitiannya. Chetan Nayak, kepala divisi perangkat keras kuantum Microsoft, menyebut perangkat lunak itu sebagai "alat penyetelan praktis" yang sudah rutin digunakan untuk menempatkan qubit pada chip mereka. "Ini seperti memperdebatkan apakah penerbangan mungkin dilakukan, padahal Anda sudah berdiri di samping pesawat," kata Nayak. Namun, fisikawan University of Pittsburgh Sergey Frolov menilai Microsoft belum memiliki bukti yang cukup, berbeda dengan pendekatan IBM dan Quantinuum yang tidak bergantung pada partikel eksotis. "Tidak ada fondasi yang jelas bahwa kemajuan berbasis Majorana ini masuk akal melalui serangkaian eksperimen yang andal," tegas Frolov.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik karena komputasi kuantum berpotensi merevolusi berbagai sektor, mulai dari keamanan siber hingga penemuan obat. Namun, kontroversi di Microsoft mengingatkan bahwa teknologi ini masih dalam tahap awal dan penuh ketidakpastian. Riset kuantum di Indonesia sendiri masih terbatas, sehingga ketergantungan pada klaim perusahaan asing perlu diimbangi dengan verifikasi independen.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Microsoft mampu membuktikan pendekatan Majorana secara meyakinkan sebelum target 2029, atau justru akan ditinggalkan investor karena terus-menerus dihantam kritik ilmiah. Sementara itu, rival seperti IBM dan Google terus melaju dengan teknologi yang lebih transparan dan teruji.



