McInnes Resmi Nahkodai Rangers: Target Relevan Lagi di Domestik
Baca dalam 60 detik
- Derek McInnes resmi ditunjuk sebagai manajer Rangers dengan misi utama mengembalikan dominasi klub di kompetisi domestik Skotlandia.
- McInnes mendapat jaminan kewenangan penuh dalam rekrutmen pemain, berbeda dengan posisi head coach sebelumnya yang lebih terbatas.
- Rangers hanya meraih tiga trofi domestik dalam 15 tahun terakhir, menjadikan tekanan besar bagi McInnes untuk segera membuahkan hasil.

Derek McInnes resmi diperkenalkan sebagai manajer baru Rangers, Kamis (24/4), dengan tekad membangkitkan kembali kejayaan klub yang telah lama redup di kancah domestik. Dalam konferensi pers perdananya di Ibrox, pria 54 tahun itu tak menjanjikan revolusi instan, melainkan perubahan standar dan mentalitas sebagai fondasi utama.
McInnes, yang sebelumnya sukses membesut Hearts, Kilmarnock, dan Aberdeen, mengakui bahwa jabatan manajer Rangers adalah posisi impiannya. Namun, ia sadar betul bahwa hasil akhir yang akan menentukan masa depannya. "Jika kami tidak memenangkan trofi, akan ada orang lain yang duduk di sini tidak lama lagi," ujarnya dengan nada datar. Klub hanya mengoleksi satu gelar liga, satu Piala Skotlandia, dan satu Piala Liga dalam 15 tahun terakhirโcatatan yang dinilai sangat buruk bagi klub sebesar Rangers.
CEO Rangers, Jim Gillespie, yang mendampingi McInnes dalam sesi perkenalan, menegaskan bahwa mantan pelatih Hearts itu adalah satu-satunya kandidat yang diincar. Gillespie mengungkapkan bahwa ketika RB Salzburg mendekati Danny Rohl, pihak klub sudah menyiapkan McInnes sebagai pengganti. "Itu menjadi motivasi untuk melepas Danny dan mendatangkan Derek, karena dia adalah sosok yang sudah kami incar untuk membawa kesuksesan," kata Gillespie.
McInnes menekankan bahwa prioritas utamanya adalah membuat Rangers kembali "relevan" di kompetisi dalam negeri. Meski klub memiliki catatan gemilang di Eropa selama delapan tahun terakhir, ia menilai kesuksesan domestik adalah kunci untuk memuaskan para pendukung yang telah lama menderita. "Kami ingin berprestasi di semua lini, termasuk Eropa, tetapi kami harus mulai memenangkan trofi di dalam negeri. Itulah yang terpenting," tegasnya.
Salah satu perubahan signifikan yang dibawa McInnes adalah statusnya sebagai "manajer" alih-alih "head coach" seperti para pendahulunya. Ini memberinya kewenangan lebih besar dalam urusan di luar lapangan, terutama rekrutmen. McInnes akan bekerja sama dengan direktur teknis Dan Purdy, direktur olahraga Stig Inge Bjornebye, dan staf rekrutmen, namun keputusan akhir tetap ada di tangannya. "Saya mendapat jaminan bahwa setiap pemain yang kami rekrut harus melalui keputusan saya," jelasnya.
Soal gaya bermain, McInnes enggan banyak bicara. "Kami harus menang di sini," katanya singkat. Ia ingin meniru ketangguhan Hearts musim lalu yang tak terkalahkan di kandang, sehingga lawan merasa tidak nyaman saat bertandang ke Ibrox. "Saya tidak ingin tim lawan datang ke sini dan merasa nyaman. Faktor ketakutan itu sudah hilang. Kami harus membuat mereka benar-benar kesulitan," tambahnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah McInnes bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan mentalitas juara. Klub-klub Liga 1 yang kerap berganti pelatih dan minim prestasi domestik bisa meniru pendekatan Rangers yang memberikan kewenangan penuh kepada manajer untuk membangun tim sesuai visinya. Pertanyaannya, akankah McInnes mampu mengembalikan kejayaan Rangers di tengah dominasi Celtic yang begitu kuat?



