Momen Haru Gregg Berhalter: Sang Putra Cetak Gol Perdana di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Sebastian Berhalter mencetak gol dan assist pertamanya di Piala Dunia 2026 saat AS kalah 3-2 dari Turki.
- Gregg Berhalter, mantan pemain dan pelatih AS, menyaksikan langsung aksi putranya bersama 31 anggota keluarga lainnya di stadion.
- Prestasi ini menambah daftar pemain AS keturunan atlet terkenal yang bersinar di turnamen, seperti Gio Reyna dan Alex Freeman.

Sebastian Berhalter, gelandang Vancouver Whitecaps, mencatatkan gol perdana dan assist di Piala Dunia 2026 dalam laga pamungkas Grup E melawan Turki yang berakhir 3-2 untuk keunggulan lawan. Momen itu menjadi spesial karena disaksikan langsung oleh ayahnya, Gregg Berhalter, mantan pemain dan pelatih tim nasional Amerika Serikat, yang hadir bersama 31 anggota keluarga lainnya di Los Angeles Stadium.
Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Sebastian menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada babak kedua sebelum Turki mencetak gol kemenangan di menit akhir. Usai gol, ia langsung melambungkan ciuman ke arah tribun keluarga. "Mereka telah melakukan begitu banyak hal untuk membawa saya ke posisi ini. Saya sangat bersyukur," ujar Sebastian kepada FIFA seusai laga.
Gregg Berhalter, yang kini melatih Chicago Fire, mengaku terbang kembali ke markas tim keesokan harinya. Meski harus segera kembali bekerja, ia merasa bangga luar biasa. "Melihat anak Anda tampil di level tertinggi sepak bola dunia adalah sesuatu yang tak terlukiskan. Satu gol dan satu assist di Piala Dunia adalah pencapaian luar biasa," kata Gregg dalam wawancara dengan FIFA.
Fenomena pemain keturunan atlet terkenal mewarnai skuad AS di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Gio Reyna—putra legenda Claudio Reyna—mencetak gol kemenangan melawan Paraguay, sementara Alex Freeman, putra mantan bintang NFL Antonio Freeman, menjadi penentu kemenangan atas Australia. Tren ini menunjukkan bagaimana warisan olahraga dapat melahirkan generasi baru pesepak bola berkaliber dunia.
Bagi Indonesia, kisah ini mengingatkan pada potensi diaspora dan pembinaan usia dini. Meskipun belum ada pemain keturunan langsung yang tampil di Piala Dunia, keberhasilan pemain seperti Sebastian menunjukkan pentingnya ekosistem sepak bola yang mendukung pengembangan bakat dari keluarga olahraga. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dapat menjadikan model ini sebagai inspirasi untuk memperkuat program pembinaan usia muda dan menjalin kerja sama dengan klub-klub luar negeri.
Gregg Berhalter juga menyoroti tekanan yang dihadapi timnya jelang babak gugur. "Mereka sudah terbiasa dengan laga bertekanan tinggi setelah melewati play-off UEFA dan menghadapi tuan rumah Kanada. Kami unggul dalam atletis dan mobilitas, itu akan menjadi keuntungan," ujarnya. Pertanyaan besarnya, mampukah AS memanfaatkan momen ini untuk melaju lebih jauh, atau justru sejarah berulang dengan kegagalan di fase knock-out?



