Fractured Leg Tak Hentikan Semangat: Ismael Kone Sapa Fans Kanada dari Kursi Roda
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Sassuolo Ismael Kone mengalami patah tulang kaki saat Kanada mengalahkan Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026.
- Meski cedera parah dan harus menjalani operasi, Kone bersikeras hadir di pinggir lapangan saat Kanada menghadapi Swiss, menyapa penggemar dari kursi roda.
- Kehadirannya menjadi simbol ketangguhan dan semangat tim, menginspirasi rekan setim dan penggemar di tengah turnamen yang berat.

Gelandang Timnas Kanada, Ismael Kone, memilih duduk di kursi roda dan menyapa puluhan ribu pendukung yang memadati Stadion Vancouver, Selasa malam, hanya beberapa hari setelah kakinya patah saat bertanding melawan Qatar. Pemain berusia 24 tahun itu menolak absen mendampingi rekan setimnya di laga penentu Grup C Piala Dunia 2026 melawan Swiss, meski turnamennya harus berakhir lebih cepat akibat cedera parah.
Kone mengalami cedera mengerikan pada pertandingan kedua fase grup, saat Kanada menekuk Qatar dengan skor telak 6-0. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi fusi tulang kaki. Belum diketahui berapa lama masa pemulihannya, tetapi yang pasti ia tidak akan bisa bermain lagi di sisa turnamen. Namun, semangatnya tidak surut. Kone bersikeras untuk tetap berada di sekitar tim dan memberikan dukungan moral.
Dalam momen yang mengharukan, Kone muncul di lapangan sebelum kick-off dengan kursi roda, melambaikan tangan ke arah tribun. Para penggemar Kanada membalas dengan sorak-sorai dan tepuk tangan meriah. Ia kemudian bergabung dengan rekan-rekannya di pinggir lapangan selama pemanasan, menunjukkan solidaritas yang langka di tengah krisis cedera.
Bagi Kanada, kehilangan Kone merupakan pukulan berat. Gelandang serbabisa itu diharapkan menjadi motor permainan di lini tengah, apalagi turnamen ini adalah Piala Dunia pertama yang digelar di kandang sendiri bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Cedera ini mengingatkan pada risiko tinggi yang dihadapi pemain di turnamen besar, di mana intensitas pertandingan dan tekanan fisik mencapai puncaknya.
Dari perspektif Indonesia, kisah Kone menjadi pengingat akan pentingnya kedalaman skuad dan manajemen risiko cedera. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030 atau 2034, bisa belajar dari bagaimana Kanada menghadapi musibah ini. Mentalitas pantang menyerah yang ditunjukkan Kone juga menjadi contoh bagi pemain muda Indonesia bahwa dedikasi terhadap tim bisa melampaui batas fisik.
โSaya hanya ingin berada di sini untuk rekan-rekan saya. Mereka berjuang untuk saya, saya juga harus berjuang untuk mereka,โ ujar Kone dalam wawancara singkat setelah pertandingan, seperti dikutip media lokal. Pernyataan itu mencerminkan semangat kolektif yang kerap menjadi pembeda antara tim biasa dan tim hebat.
Ke depan, Kanada harus membuktikan bahwa mereka bisa tampil kompetitif tanpa Kone. Pertandingan melawan Swiss menjadi ujian sesungguhnya. Apakah semangat yang ditunjukkan Kone mampu menginspirasi rekan setimnya untuk meraih hasil maksimal? Atau justru cedera ini akan menjadi titik balik yang memperlemah performa tim? Jawabannya akan terlihat dalam 90 menit pertandingan yang menentukan nasib Kanada di Piala Dunia 2026.



