Piala Dunia 2026: Tiket Termahal dalam Sejarah, Suporter Kaya Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak drastis akibat sistem dynamic pricing FIFA, dengan tiket grup termurah di pasar sekunder mencapai $1.600.
- Fenomena ini mengubah demografi penonton: sebagian besar pemegang tiket berasal dari kalangan profesional bergaji tinggi, sementara suporter tradisional mulai tersingkir.
- FIFA hanya menyediakan 130.000 tiket murah $60 dari total 7 juta tiket, jauh lebih sedikit dibandingkan 400.000 tiket murah pada Piala Dunia 2014.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mencatat sejarah baru sebagai edisi termahal sepanjang masa. Lonjakan harga tiket dan akomodasi telah mengubah wajah turnamen ini, dari ajang yang dulunya terjangkau bagi penggemar kelas pekerja menjadi panggung eksklusif bagi kalangan berduit. Sebuah paket hospitality untuk final bahkan ludes terjual seharga $4 juta dalam waktu kurang dari 24 jam.
FIFA menerapkan sistem dynamic pricing untuk pertama kalinya di Piala Dunia, yang membuat harga tiket bergerak mengikuti permintaan. Akibatnya, tiket babak grup yang semula dijual resmi maksimal $575 melambung di atas $1.000 di pasar sekunder. Menurut situs pelacak harga Ticketdata, rata-rata harga tiket terendah untuk pertandingan mendatang mencapai $1.600. Sebagai perbandingan, tiket grup termahal pada Piala Dunia 2022 di Qatar hanya $220.
Kenaikan ini bukan tanpa konsekuensi. Jajak pendapat Reuters terhadap lebih dari 50 penonton di beberapa stadion selama fase grup mengungkapkan bahwa sekitar 30 orang bekerja di sektor penjualan, keuangan, dan properti—profesi dengan pendapatan tinggi. Hanya segelintir yang berasal dari profesi bergaji rendah, seperti dua teknisi listrik dan dua perawat. Pelatih Paraguay Gustavo Alfaro menyayangkan perubahan ini: "Esensi sepak bola hilang. Sepak bola tidak boleh menjadi bisnis, ia harus tetap menjadi sepak bola."
Bagi penggemar tradisional yang terbiasa dengan perjalanan hemat—seperti kisah dua suporter Skotlandia pada 1978 yang menumpang kapal kargo ke Argentina—realitas baru ini terasa pahit. Greg Connor, pemilik bengkel mobil asal Oklahoma, mengaku menghabiskan $9.600 untuk empat tiket menonton Prancis vs Norwegia. "Awalnya kami ingin menonton lima atau enam pertandingan, tapi akhirnya hanya satu," katanya. Sementara itu, Renato Perez dari Kepulauan Galapagos merogoh kocek $22.000 untuk keluarganya yang berlima menyaksikan Ekuador mengalahkan Jerman. "Tapi ini sepadan," ujarnya.
FIFA membela kebijakan harganya dengan menyebut bahwa pendapatan akan diinvestasikan kembali untuk pengembangan sepak bola. Juru bicara FIFA menambahkan bahwa 130.000 tiket seharga $60 telah disediakan setelah adanya protes publik pada Desember lalu. Namun, jumlah itu hanya setitik dibandingkan total tiket yang tersedia. Stefan Szymanski, profesor manajemen olahraga Universitas Michigan, menilai bahwa sepak bola telah menjadi tontonan yang sangat diminati kalangan kaya. "Popularitasnya terus tumbuh, terutama di kalangan orang mampu," katanya. "Setelah Piala Dunia selesai, orang Amerika akan segera beralih ke NFL dan Seri Dunia."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa sepak bola global semakin menjauh dari akar kerakyatannya. Meskipun Timnas Indonesia belum lolos ke Piala Dunia 2026, antusiasme penggemar tanah air terhadap turnamen ini tetap tinggi. Namun, dengan harga tiket yang melambung, mimpi menyaksikan langsung aksi para bintang di stadion menjadi semakin sulit dijangkau. Pertanyaan besarnya: akankah FIFA menahan laju komersialisasi atau justru semakin memperlebar jurang antara suporter biasa dan elite?



