Leeds United Bidik Julian Brandt: Lebih dari Sekadar Pelapis Harry Wilson
Baca dalam 60 detik
- Leeds United telah melakukan pembicaraan awal dengan agen Julian Brandt, gelandang serang Borussia Dortmund yang akan berstatus bebas transfer dalam sepekan.
- Brandt dinilai sebagai opsi yang lebih mentereng dibandingkan Harry Wilson, dengan pengalaman 61 laga di Liga Champions dan konsistensi produktivitas selama tujuh musim di Bundesliga.
- Jika berhasil direkrut, Brandt bisa menjadi kunci bagi Leeds untuk menembus papan atas Premier League musim 2026/27, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada satu musim gemilang Wilson.

Leeds United tidak hanya puas dengan satu rekrutan. Setelah mencapai kesepakatan penuh dengan Harry Wilson, klub asal Yorkshire itu kini dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan perwakilan Julian Brandt, gelandang serang Borussia Dortmund yang akan habis kontrak dalam waktu dekat. Langkah ini menegaskan ambisi The Whites untuk tidak sekadar bertahan di Premier League, melainkan membangun skuad yang kompetitif untuk menembus papan atas.
Menurut laporan TEAMtalk, manajemen Leeds yang dipegang oleh 49ers Enterprises sudah mengadakan pertemuan dengan agen Brandt untuk membahas kemungkinan pindah ke Elland Road. Brandt, yang genap berusia 30 tahun, akan menjadi pemain bebas transfer dalam sepekan ke depan—situasi yang membuatnya menjadi incaran banyak klub, termasuk Roma dari Italia. Kehadiran Brandt di bursa gratis memberi Leeds peluang untuk mendatangkan pemain berkelas Eropa tanpa biaya transfer, meski harus bersaing dari segi gaji dan daya tarik proyek.
Brandt bukanlah nama baru di pentas elite Eropa. Selama tujuh musim membela Dortmund, ia mencatatkan 61 penampilan di Liga Champions dan hanya sekali gagal mencapai dua digit kontribusi gol dalam semusim. Pada musim terakhirnya di Signal Iduna Park, meski lebih sering menjadi pemain pengganti, ia tetap menorehkan 16 gol dan assist di semua kompetisi. Konsistensi semacam ini yang membuatnya dijuluki "luar biasa" oleh rekan setimnya, Nico Schlotterbeck.
Perbandingan dengan Harry Wilson menjadi menarik. Wilson, yang baru saja menyetujui kontrak jangka panjang dengan Leeds, tampil gemilang bersama Fulham musim lalu dengan torehan 10 gol dan 7 assist. Namun, performa impresif itu merupakan puncak kariernya setelah tahun-tahun sebelumnya yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, Brandt telah membuktikan diri sebagai pemain papan atas secara berkelanjutan. Lebih dari itu, pengalaman Wilson di kompetisi Eropa masih nol, sementara Brandt sudah malang melintang di Liga Champions—faktor yang dinilai krusial jika Leeds ingin bersaing di level tertinggi.
Pelatih Daniel Farke tampaknya ingin membangun duet maut di lini serang. Brandt, yang bisa beroperasi sebagai gelandang serang atau sayap, diproyeksikan menjadi kreator utama yang memasok bola bagi Wilson. Kombinasi ini diyakini bisa mengangkat daya gedor Leeds yang musim lalu hanya finis di peringkat ke-14. Namun, risiko tetap ada: Brandt mungkin menuntut gaji tinggi, dan adaptasi dengan Premier League tidak selalu mulus bagi pemain yang sudah lama di Bundesliga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Leeds di bursa transfer ini layak dicermati. Klub yang pernah diperkuat Elkan Baggott (meski hanya di level akademi) kini menunjukkan ambisi untuk menjadi kekuatan baru di Inggris. Jika Brandt benar-benar bergabung, Leeds tidak hanya akan menjadi tim yang lebih menarik ditonton, tetapi juga bisa menjadi destinasi bagi pemain Asia Tenggara di masa depan—sebuah prospek yang menggairahkan bagi pasar sepak bola regional.
Langkah selanjutnya ada di tangan 49ers Enterprises. Dengan Wilson sudah di tangan, mengejar Brandt adalah pernyataan bahwa Leeds tidak main-main. Pertanyaannya, mampukah mereka meyakinkan Brandt untuk memilih Elland Road di atas tawaran klub sekelas Roma? Atau justru ambisi ini akan menjadi bumerang jika gagal?



