400 Pekerja Migran di Singapura Terlantar, Serikat Buruh Siapkan Bantuan Tunai dan Lowongan Kerja
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 400 pekerja migran di Singapura yang tidak menerima gaji selama berbulan-bulan akan mendapat bantuan tunai S$200 dari NTUC dan MWC.
- Serikat buruh telah menjaring 150 lowongan kerja di sektor konstruksi dari 40 perusahaan untuk menampung para pekerja yang terdampak.
- Pemerintah Singapura menerbitkan izin khusus agar pekerja bisa tetap tinggal dan mencari kerja baru, sementara investigasi terhadap perusahaan nakal terus berjalan.

Sebanyak 400 pekerja migran di Singapura yang mengalami penunggakan gaji selama berbulan-bulan akhirnya mendapat jaminan bantuan tunai dan akses lowongan kerja baru. Langkah ini diumumkan langsung oleh Sekretaris Jenderal NTUC Ng Chee Meng dalam kunjungannya ke Tuas View Dormitory, Rabu (24/6).
NTUC bersama Migrant Workers' Centre (MWC) mengalokasikan dana sebesar S$200 per pekerja, terdiri dari S$100 tunai dan S$100 voucher FairPrice. Bantuan ini diberikan kepada pekerja yang sudah menjadi anggota MWC atau bersedia mendaftar. Selain itu, NTUC juga berhasil mengumpulkan 150 lowongan kerja konstruksi dari sekitar 40 perusahaan dalam dua hari terakhir.
Krisis ini bermula ketika lebih dari 100 pekerja migran dari KPA Engineering dan SK Industries mendatangi pusat layanan Kementerian Tenaga Kerja (MOM) di Bendemeer pada Senin lalu. Mereka mengaku tidak bisa menghubungi majikan dan sudah berbulan-bulan tidak menerima gaji. Berdasarkan catatan publik, salah satu direktur kedua perusahaan itu juga tercatat sebagai direktur di lima perusahaan lain di Singapura, termasuk VVR Plant Engineering yang juga memiliki pekerja dengan nasib serupa. Bahkan, direktur tersebut mendirikan tiga perusahaan dalam satu hari pada 2025.
Menteri Negara Tenaga Kerja Dinesh Vasu Dash yang turut hadir menegaskan bahwa pihaknya memandang serius kasus ini. "Beberapa cerita mereka sangat memilukan. Banyak yang punya utang, ada yang kesulitan membiayai sekolah anaknya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun bantuan yang diberikan terbilang sederhana, setidaknya dapat membantu pekerja memenuhi kebutuhan harian dan mengisi pulsa ponsel untuk menghubungi keluarga di kampung halaman.
MOM berjanji akan menerbitkan special pass bagi para pekerja sehingga mereka dapat tetap tinggal secara legal di Singapura selama proses pencarian kerja. "Mereka tidak perlu khawatir soal status keimigrasian sampai mendapatkan pekerjaan baru," kata Dinesh. Sebagian besar pekerja berasal dari sektor instalasi pendingin udara dan konstruksi, yang dinilai masih memiliki permintaan tenaga kerja yang cukup.
Untuk tempat tinggal, setelah masa hunian di Tuas View Dormitory berakhir, pekerja akan dipindahkan ke pusat orientasi MOM di Sengkang. MWC sebelumnya telah memberikan bantuan darurat berupa tempat tinggal sementara, makanan, dan transportasi. Kementerian Tenaga Kerja bersama Tripartite Alliance for Dispute Management juga terus menjangkau para majikan untuk menyelesaikan sengketa upah.
Kasus ini membuka kembali pertanyaan tentang perlindungan pekerja migran di Singapura. Meskipun ada mekanisme tripartit yang melibatkan pemerintah, serikat buruh, dan pengusaha, praktik pengabaian kewajiban upah masih terjadi. Ke depan, efektivitas pengawasan dan sanksi terhadap perusahaan nakal akan menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Apakah langkah-langkah ini cukup untuk memberikan efek jera?



