Transaksi Rp18,27 Triliun di ARCI: Rajawali Kapital Emas Kuasai 83,65% Saham
Baca dalam 60 detik
- Rajawali Kapital Emas mengakuisisi 16,6 miliar saham ARCI senilai Rp18,27 triliun, meningkatkan kepemilikan dari 17,85% menjadi 83,65%.
- Transaksi ini merupakan restrukturisasi internal dalam grup Rajawali, dengan Rajawali Corpora melepas seluruh kepemilikannya di ARCI.
- Saham ARCI justru turun 7% pasca-pengumuman, mencerminkan kekhawatiran pasar atas konsolidasi kepemilikan yang ketat.

Dua pemegang saham utama PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melakukan transaksi raksasa senilai Rp18,27 triliun pada 23 Juni 2026, mengalihkan 16,6 miliar lembar saham dan mengubah peta kepemilikan emiten tambang emas tersebut secara fundamental.
PT Rajawali Kapital Emas, yang sebelumnya hanya menggenggam 17,85% hak suara, melesat menjadi pengendali tunggal dengan 83,65% setelah membeli seluruh saham yang dilepas PT Rajawali Corpora. Harga transaksi ditetapkan Rp1.100 per saham, sedikit di atas harga pasar saat itu yang berada di kisaran Rp1.070.
Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen ARCI menyebut aksi ini sebagai restrukturisasi internal antarafiliasi dalam satu grup. Artinya, tidak ada perubahan pengendali ultimate, melainkan pergeseran portofolio di antara entitas di bawah Rajawali Group.
Meski transaksi bernilai jumbo dan mengonsolidasikan kendali, reaksi pasar justru negatif. Saham ARCI ambles 7,01% ke Rp995 pada penutupan sesi II, Rabu (24/6), menyeret kapitalisasi pasar menjadi Rp25,24 triliun. Investor tampak mencermati risiko likuiditas yang menipis pasca-konsolidasi, mengingat saham yang beredar di publik kini hanya sekitar 16,35%.
Bagi pelaku pasar Indonesia, langkah ini mengingatkan pada pola grup usaha besar yang merapikan struktur kepemilikan menjelang aksi korporasi berikutnya. Analis menilai Rajawali Kapital Emas bisa saja mempersiapkan ARCI untuk skema rights issue, divestasi tambang, atau bahkan skenario delisting. “Konsolidasi kepemilikan di atas 80% biasanya diikuti langkah strategis, karena fleksibilitas pengambilan keputusan meningkat drastis,” ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
ARCI sendiri merupakan salah satu produsen emas terbesar di Indonesia dengan tambang di Sulawesi Utara. Di tengah harga emas global yang masih tinggi, valuasi perusahaan menjadi sorotan. Namun, transparansi pasca-restrukturisasi akan menjadi kunci kepercayaan investor ritel.
Ke depan, publik menunggu apakah Rajawali Kapital Emas akan mempertahankan status public company atau justru menarik ARCI dari bursa. Pertanyaan itu menjadi penting mengingat likuiditas saham yang semakin terbatas dan potensi benturan kepentingan antara pengendali dan pemegang saham minoritas.



