Bellingham Lolos dari Kartu Merah: Ini Bedanya dengan Almiron
Baca dalam 60 detik
- Aturan baru FIFA untuk Piala Dunia 2026 menghukum pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan dalam situasi konfrontatif, dengan sanksi kartu merah.
- Jude Bellingham tidak dihukum karena interaksinya dengan Jordan Ayew bersahabat, berbeda dengan Miguel Almiron yang diusir saat situasi memanas.
- Aturan ini bersifat opsional dan sejauh ini hanya diterapkan di Piala Dunia, menimbulkan keraguan tentang konsistensi dan potensi penyalahgunaannya.

Aturan baru FIFA yang memungkinkan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan mulai menuai kontroversi setelah dua insiden berbeda dalam Piala Dunia 2026: Jude Bellingham lolos dari hukuman, sementara Miguel Almiron justru diusir keluar lapangan.
Dalam laga Inggris kontra Ghana yang berakhir imbang 0-0 di Boston, Selasa lalu, Bellingham terlihat menutup mulutnya saat berbincang dengan Jordan Ayew. Foto momen itu viral dan memicu spekulasi apakah sang gelandang Real Madrid seharusnya dihukum. Namun, wasit dan VAR memutuskan tidak ada pelanggaran. Sebaliknya, Almiron, pemain Paraguay, menjadi korban pertama aturan tersebut saat timnya menghadapi Turki akhir pekan lalu. Ia mendapat kartu merah setelah VAR mengintervensi.
Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, telah menjelaskan sebelum turnamen bahwa menutup mulut tidak sepenuhnya dilarang. โPemain boleh melakukannya saat berbincang ramah dengan teman,โ ujarnya. โMasalah muncul ketika percakapan bersifat konfrontatif. Menutup mulut dalam situasi seperti itu dianggap sebagai upaya menyembunyikan ucapan yang tidak pantas, dan sanksinya adalah kartu merah.โ
Perbedaan utama antara kedua insiden terletak pada konteks. Bellingham dan Ayew terlihat santai, tidak ada ketegangan. Sebaliknya, Almiron terlibat dalam situasi panas setelah rekan setimnya, Isidro Pitta, terlibat sengketa dengan pemain Turki. Meski Almiron tidak terlibat langsung dalam dorong-dorongan, ia menutup mulut saat berbicara dengan Mert Muldur, yang langsung melapor ke asisten wasit.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela aturan tersebut. โIni soal rasa hormat dan keteladanan. Jika Anda tidak menyembunyikan sesuatu, Anda tidak perlu menutup mulut,โ katanya kepada SNTV. Namun, kritik muncul karena aturan ini rentan disalahgunakan. Pemain bisa dengan sengaja memprovokasi lawan untuk menutup mulut, lalu melaporkannya. Almiron, misalnya, tidak terlihat agresif, namun Muldur sigap memanfaatkan momen.
Bagi Indonesia, aturan ini menjadi pengingat bahwa FIFA terus memperketat etika di lapangan. Meski belum diterapkan di liga domestik, potensi adopsi di masa depan perlu diantisipasi. Jika PSSI atau Liga Indonesia mengadopsi aturan serupa, wasit harus dilatih konsisten membedakan percakapan ramah dan konfrontatif. Tanpa kejelasan, risiko kontroversi dan protes akan meningkat.
Ke depan, efektivitas aturan ini akan diuji. Akankah FIFA memperluasnya ke kompetisi lain? Atau justru ditinggalkan karena sulit diterapkan secara konsisten? Satu hal pasti: pemain kini harus berpikir dua kali sebelum menutup mulut di hadapan lawan, terutama saat tensi pertandingan meninggi.



