Selat Hormuz Ditutup Tiga Bulan: BI Beberkan Tiga Jalur Dampak ke Ekonomi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Selat Hormuz selama nyaris tiga bulan memicu kenaikan harga minyak dan komoditas lain, mengerek inflasi global.
- Indonesia berpotensi diuntungkan dari lonjakan harga batu bara dan CPO, namun tertekan oleh kenaikan biaya energi dan suku bunga.
- Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga 100 bps menjadi 5,75% untuk mengantisipasi rambatan ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan tiga jalur utama yang menjadi saluran dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari komoditas hingga sektor keuangan dan perdagangan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda telah mendorong lonjakan harga energi global, yang pada akhirnya memicu inflasi di berbagai negara.
Jalur pertama, menurut Destry, adalah melalui harga komoditas. Konflik di kawasan penghasil minyak utama dunia tersebut telah mendongkrak harga minyak mentah, yang kemudian mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi di Indonesia. Efek berantai ini tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga meningkatkan biaya produksi di sektor industri. Lebih lanjut, Destry menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak turut memicu lonjakan harga komoditas lain, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).
Menariknya, Destry menyebut bahwa Indonesia justru bisa mendapatkan keuntungan dari situasi ini. Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, permintaan global terhadap batu bara diperkirakan meningkat seiring peralihan energi dari minyak yang lebih mahal. "Banyak negara beralih kembali ke batu bara," ujarnya. Ditambah pelemahan nilai tukar rupiah, harga batu bara Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Hal serupa juga berlaku untuk CPO, di mana Indonesia merupakan pemasok utama dunia.
Jalur kedua adalah sektor keuangan. Destry mengungkapkan bahwa ketidakpastian global mendorong bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer). Kondisi ini memaksa BI untuk ikut menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah arus modal keluar. "Kami menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tahan aset-aset keuangan kita," tegas Destry. Langkah ini diambil secara preemptif meskipun berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
Jalur ketiga adalah perdagangan. Disrupsi rantai pasok akibat penutupan Selat Hormuz menyebabkan biaya logistik melonjak, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang impor. Destry memperingatkan bahwa efek ini akan tercermin dalam inflasi, sehingga BI harus tetap waspada. "Ini pasti akan tercermin juga di inflasi," ucapnya. Untuk itu, kenaikan suku bunga menjadi instrumen untuk mengendalikan ekspektasi inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%.
Ke depan, tekanan inflasi global dan ketidakpastian geopolitik diperkirakan masih akan membayangi perekonomian Indonesia. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan dan siap mengambil langkah lebih lanjut jika diperlukan. Pertanyaannya, seberapa lama Indonesia dapat menyeimbangkan antara menjaga stabilitas moneter dan mendorong pertumbuhan di tengah gejolak global yang belum menunjukkan tanda mereda?



