Gerakan Cinta Rupiah 1998: Ketika Anak Presiden Mengajak Warga Menukar Dolar
Baca dalam 60 detik
- Tutut Soeharto memelopori Gerakan Cinta Rupiah pada Januari 1998 dengan menukar US$50 ribu dan 2 kg emas miliknya.
- Gerakan ini diikuti pejabat, pengusaha, dan masyarakat, namun dana terkumpul hanya US$5 juta, jauh dari kebutuhan krisis.
- Kritik terhadap efektivitas gerakan terbukti saat rupiah terus melemah dan krisis berujung pada lengsernya Soeharto.

Di tengah krisis moneter yang menghantam Indonesia pada awal 1998, putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana yang akrab disapa Tutut, meluncurkan sebuah gerakan yang mengajak masyarakat melepas simpanan dolar demi menyelamatkan rupiah. Inisiatif yang dikenal sebagai Gerakan Cinta Rupiah (Getar) itu menjadi sorotan karena melibatkan langsung keluarga presiden di tengah tekanan ekonomi yang kian memburuk.
Krisis yang dipicu gejolak baht Thailand pada pertengahan 1997 membuat rupiah terpuruk dari kisaran Rp2.000 per dolar AS menjadi Rp10.000–12.000 per dolar AS, menurut catatan Jan Luiten van Zanden dalam buku Ekonomi Indonesia 1800–2010. Pemerintah kala itu kewalahan mengendalikan nilai tukar, dan kepercayaan publik terhadap ekonomi nasional merosot tajam.
Pada Januari 1998, Tutut mengumumkan Getar dan langsung memberi contoh dengan menukar US$50 ribu milik pribadinya ke rupiah. Ia kemudian menambah kontribusinya dengan menyerahkan 2 kilogram emas kepada pemerintah. Aksi ini diikuti oleh sejumlah pejabat negara, termasuk anggota MPR yang saat itu dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono—yang menukar US$1.300—serta Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono. Para pengusaha besar seperti Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing melepas US$100 ribu, sementara Sukamdani Sahid Gitosardjono menukar US$50.100 dan 1 kg emas.
Namun, gerakan ini segera menuai kritik. Pengusaha Fahmi Idris, seperti dikutip Bali Post pada 1 Februari 1998, menilai langkah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah karena dana yang terkumpul terlampau kecil dibandingkan tekanan pasar. Kritik itu terbukti tepat: rupiah terus melemah, harga kebutuhan pokok melonjak, dan krisis ekonomi berubah menjadi krisis sosial-politik pada Mei 1998. Kerusuhan meluas di berbagai daerah, dan pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.
Bagi Indonesia saat ini, kisah Getar menjadi pengingat bahwa gerakan moral semata tidak cukup melawan kekuatan pasar. Meskipun sempat membangkitkan semangat nasionalisme, efektivitasnya terbatas tanpa kebijakan fundamental yang memperkuat fundamental ekonomi. Dalam konteks pelemahan rupiah yang kembali terjadi beberapa tahun terakhir, pelajaran dari 1998 relevan: stabilitas nilai tukar membutuhkan kombinasi kebijakan moneter yang kredibel, cadangan devisa yang memadai, dan kepercayaan investor, bukan sekadar ajakan sukarela.
Pertanyaan yang tersisa: apakah di masa depan, ketika rupiah kembali tertekan, akan lahir lagi gerakan serupa? Atau justru pendekatan struktural yang lebih diandalkan?



