Bursa Asia Terombang-ambing, Minyak Mendekati Titik Terendah Empat Bulan
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham Asia bergerak mixed setelah aksi jual besar-besaran, dengan KOSPI Korea Selatan memantul 3,5% setelah anjlok 10%.
- Harga minyak mentah terus merosot mendekati level terendah empat bulan di tengah tanda-tanda tanker akan meninggalkan Selat Hormuz.
- Penguatan dolar AS ke puncak 13 bulan menekan yen Jepang dan meningkatkan kekhawatiran intervensi bank sentral.

Pasar saham Asia kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada Rabu (24/6) di tengah kekhawatiran valuasi saham teknologi yang terlalu mahal dan prospek perundingan damai AS-Iran yang masih gamang. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang sempat naik 0,4% setelah bergerak naik-turun, mencerminkan ketidakpastian yang melanda kawasan.
KOSPI Korea Selatan, yang sehari sebelumnya ambles 10%—penurunan harian terdalam sejak Maret—berhasil bangkit 3,5%. Sebaliknya, Nikkei Jepang masih melemah 0,4% dan bursa Taiwan turun 1,9%. "Pergerakan harga dalam tujuh hari perdagangan terakhir mengkhawatirkan, bukan hanya saat jatuh, tetapi juga saat naik," ujar Michael McCarthy, analis pasar di Moomoo Securities Australia. Menurutnya, pergerakan cepat ke dua arah merupakan tanda ketidakstabilan.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah kembali tertekan. Pada Rabu, harga minyak turun lebih dari 1% dan mendekati level terendah empat bulan. Penyebabnya adalah indikasi bahwa lebih banyak kapal tanker yang sempat tertahan di Teluk akan segera meninggalkan Selat Hormuz. Namun, ketidakpastian masih menyelimuti kesepakatan AS-Iran. Kedua negara memberikan keterangan yang bertolak belakang mengenai isi perundingan, termasuk inspeksi nuklir dan kendali atas Selat Hormuz. Kesenjangan persepsi antara Washington dan Teheran "bisa menjadi sumber kekhawatiran ke depan," kata Yoshitaka Araya dari Monex Securities.
Pengaruh dari Asia juga terasa di Eropa. Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman masing-masing turun 0,3%, sementara FTSE Inggris melemah 0,67%. Di AS, futures relatif stabil dengan S&P 500 E-minis naik 0,1% dan Nasdaq 100 E-minis menguat 0,2%. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 0,6 basis poin ke 4,487%. Pelaku pasar menanti rilis laba Micron Technology, yang diyakini bisa memberi petunjuk tentang prospek sektor memori dan chip AI setelah reli panjang tahun ini.
Di pasar valuta asing, dolar AS terus perkasa. Indeks dolar naik 0,07% ke 101,46, level tertinggi dalam 13 bulan. Penguatan dolar menekan yen Jepang hingga ke 161,53 per dolar, membuat pasar waspada terhadap potensi intervensi Bank of Japan (BOJ). Risalah pertemuan BOJ bulan ini menunjukkan beberapa anggota dewan mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut mendekati level netral. Suku bunga acuan Jepang saat ini berada di 1,00%, tertinggi dalam 31 tahun. Sementara itu, euro melemah 0,15% ke US$1,1364 dan sterling turun ke US$1,3192.
Emas spot melanjutkan penurunan 0,48% ke US$4.088,71 per ons, tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil. Di pasar kripto, Bitcoin naik 0,84% ke US$62.914,94, dan Ethereum menguat 0,43% ke US$1.669,35.
Bagi investor Indonesia, volatilitas di Asia dan penguatan dolar AS patut dicermati. Pelemahan rupiah yang sudah berlangsung beberapa waktu bisa semakin tertekan jika dolar terus menguat. Di sisi lain, penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan biaya impor energi, meskipun dampaknya terhadap pendapatan negara dari sektor migas perlu diantisipasi. Pertanyaan besarnya, akankah BOJ benar-benar turun tangan menahan pelemahan yen, dan bagaimana respons pasar jika Micron memberikan prospek suram bagi industri chip?



