Lewat Film 25 Menit, Kemensos Gaet Komunitas Kreatif untuk Kampanyekan Sekolah Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Sosial bersama platform Penjaga Harapan memproduksi film pendek bertema Sekolah Rakyat sebagai alat kampanye publik.
- Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menekankan film ini harus berdampak nyata, bukan sekadar produksi seremonial.
- Proyek ini diharapkan memperkuat pemahaman masyarakat bahwa pendidikan adalah kunci keluar dari kemiskinan ekstrem.

Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng platform kreatif Penjaga Harapan untuk memproduksi film pendek berdurasi 25 menit yang mengangkat kisah transformasi anak dari keluarga miskin ekstrem melalui program Sekolah Rakyat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi komunikasi publik agar kebijakan pemerintah lebih mudah dicerna dan dirasakan oleh masyarakat luas.
Film yang mengambil latar di wilayah Cariu dan sekitarnya ini mengisahkan perjalanan seorang anak yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan berkat akses pendidikan tanpa hambatan biaya dan zonasi. Pesan yang diusung, "dari gelap menuju terang", ingin menegaskan bahwa negara hadir untuk memberikan harapan baru bagi keluarga prasejahtera. Tidak hanya soal akademik, Sekolah Rakyat juga dirancang membentuk karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri anak-anak.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, dalam audiensi dengan tim kreatif di Kantor Kemensos, Selasa (23/6), menyatakan dukungan penuh terhadap proyek ini. Ia mengingatkan agar produksi tidak berhenti pada seremonial belaka. "Kalau ini kita mulai, harus berhasil. Bukan sekadar produksi, tapi bagaimana masyarakat melihat negara hadir dan memberi harapan," ujarnya.
Agus menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen negara untuk membuka akses pendidikan. "Sekolah Rakyat ini alat agar anak-anak dari keluarga miskin bisa mewujudkan cita-citanya dan keluarganya bisa graduasi dari kemiskinan," kata dia. Kemensos berjanji menyediakan dukungan teknis, termasuk akses lokasi, data, dan koordinasi lintas unit.
Direktur Utama Penjaga Harapan, Wildanshah, menjelaskan bahwa inisiatif ini menjadi jembatan komunikasi kebijakan kepada publik. Pendekatan dramatik dipilih untuk menonjolkan transformasi dari keterbatasan menuju harapan, tanpa mengeksploitasi penderitaan. "Substansi program tetap milik negara, pendekatan kreatif ini pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan," katanya.
Koordinator Konten Penjaga Harapan, Doni Adhitia, menambahkan bahwa film ini diharapkan mampu menghadirkan empati dan pemahaman bahwa program Sekolah Rakyat benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. "Ini bukan sekadar cerita, tapi upaya membawa nilai ideologis Sekolah Rakyat ke ruang publik," ujarnya.
Produksi film ini juga melibatkan sejumlah nama seperti sutradara Bethap Virga Kiswanata, produser Kiky Malik, dan art director Maulana Wedy Irkham. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperluas keterlibatan komunitas perfilman dalam menyampaikan program strategis pemerintah. Ke depan, Kemensos dan Penjaga Harapan akan merampungkan riset dan konsultasi sebelum memulai syuting.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah film pendek ini benar-benar mengubah persepsi publik tentang program pengentasan kemiskinan, atau hanya akan menjadi tontonan sesaat tanpa dampak jangka panjang?



