Son Targetkan SoftBank Jadi Raja AI Global, Tak Ada Pensiun di Usia 68
Baca dalam 60 detik
- Masayoshi Son berambisi menjadikan SoftBank sebagai penguasa pasar kecerdasan super buatan (ASI) di empat bidang: model AI, chip, infrastruktur, dan robot.
- Investasi SoftBank di OpenAI diperkirakan mencapai 64,6 miliar dolar AS pada Oktober 2025, sejalan dengan ekspansi pusat data di AS dan Eropa.
- Son membatalkan rencana pensiun dan berkomitmen memimpin perusahaan setidaknya 10-15 tahun ke depan, didorong oleh laba bersih rekor 5 triliun yen.

Masayoshi Son, Chairman sekaligus CEO SoftBank Group, menegaskan ambisinya untuk menjadikan perusahaannya sebagai pemain nomor satu dunia di era kecerdasan super buatan (artificial superintelligence/ASI). Dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan di Tokyo, Rabu (25/6), pria berusia 68 tahun itu juga mengisyaratkan bahwa ia belum berniat pensiun dan akan terus memimpin ekspansi bisnis AI SoftBank dalam jangka panjang.
Son memaparkan empat pilar utama yang menjadi fokus SoftBank: model AI, semikonduktor, infrastruktur, dan robotika. "Saya ingin perusahaan ini menjadi penyedia yang mendominasi secara global di keempat area tersebut," ujarnya di hadapan para pemegang saham. Langkah ini menandai pergeseran strategi SoftBank dari investor teknologi umum menjadi pemain langsung di rantai nilai AI.
Salah satu andalan SoftBank adalah investasi besar-besaran di OpenAI, pengembang ChatGPT. Son mengungkapkan total investasi di perusahaan rintisan asal Amerika Serikat itu diperkirakan mencapai 64,6 miliar dolar AS pada Oktober 2025. Selain itu, SoftBank juga tengah membangun pusat data di Amerika Serikat dan Eropa, serta mengambil saham di perusahaan robotika untuk mengembangkan robot bertenaga AI. "Robot fisik atau robot AI kami sudah memasuki produksi massal," kata Son, seraya menambahkan bahwa pengumuman resmi akan segera dilakukan.
Di sisi domestik, SoftBank Corp., anak usaha SoftBank Group, tengah menjajaki aliansi modal dengan Tokyo Electric Power Company Holdings (TEPCO). Son menyebut kerja sama ini dapat meningkatkan kapasitas listrik yang dibutuhkan untuk mendirikan pusat data AI di Jepang. Langkah ini krusial mengingat kebutuhan energi pusat data AI yang sangat besar.
Keputusan Son untuk membatalkan rencana pensiunnya mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, ia pernah menyatakan akan mundur dari bisnis di usia 60-an. Namun, dengan laba bersih SoftBank yang mencapai rekor 5 triliun yen (31 miliar dolar AS) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025โmelonjak lebih dari empat kali lipatโSon merasa belum waktunya berhenti. "Saya tidak punya waktu untuk pensiun," tegasnya, seraya berkomitmen memimpin perusahaan setidaknya 10 hingga 15 tahun ke depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Investasi besar SoftBank di infrastruktur AI global dapat mendorong adopsi teknologi serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, kesenjangan infrastruktur digital dan energi di dalam negeri perlu segera diatasi agar tidak tertinggal dalam perlombaan AI. Pertanyaannya, mampukah Indonesia menarik minat SoftBank untuk berinvestasi di pusat data AI lokal, atau justru akan menjadi pasar konsumen semata?



