Persik Kediri Lepas Enam Pemain Muda Jelang Super League 2026/2027
Baca dalam 60 detik
- Persik Kediri memutus kontrak enam pemain muda sebagai bagian dari perombakan skuad menyambut musim baru.
- Keputusan ini dipicu oleh penghapusan regulasi kuota pemain U-22 di Super League mulai musim depan.
- Dua pemain yang dilepas, Rifqi Ray Farandi dan Hugo Samir, sebelumnya menjadi andalan di slot pemain muda.

Persik Kediri memulai musim baru dengan langkah berani: melepas enam pemain mudanya sekaligus. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi perombakan skuad menjelang kompetisi Super League 2026/2027.
Enam pemain yang harus meninggalkan klub berjuluk Macan Putih itu adalah Rifqi Ray Farandi, Haikal Riza, Hugo Samir, Zikri Ferdiansyah, Aulia Ramadhani Lubis, dan Zidane Afreza. Sebelumnya, Persik juga telah melepas tiga pemain senior: Rodrigo Dias, Syahrian Abimanyu, dan Yusuf Meilana.
Manajer tim Persik, Rachmad Tri Kuncara, menyampaikan apresiasi kepada para pemain yang hengkang. Menurutnya, mereka semua memiliki potensi besar, namun klub harus mengambil keputusan sulit demi masa depan tim. "Masing-masing punya kesempatan besar untuk berkembang di masa depan. Kami berterima kasih atas dedikasi mereka selama ini," ujarnya.
Keputusan melepas Rifqi Ray Farandi dan Hugo Samir menjadi sorotan. Keduanya merupakan pemain yang kerap mengisi slot kuota pemain U-22 dalam dua musim terakhir. Namun, dengan dihapuskannya regulasi kuota pemain muda mulai musim depan, Persik menilai perlu merekrut pemain yang lebih siap bersaing di tim utama.
Rifqi Ray Farandi, yang bisa bermain sebagai bek kiri dan sayap kanan, mencatatkan 24 penampilan dan satu gol bersama Persik. Ia bahkan sempat membela Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2025. Sementara itu, Hugo Samir juga menjadi andalan di posisi sayap. Haikal Riza, yang merupakan produk binaan EPA Persik, sempat dipinjamkan ke Persela Lamongan untuk mendapatkan menit bermain. Zidane Afreza, kiper muda berusia 20 tahun, juga promosi dari tim EPA musim lalu.
Keputusan ini menandai pergeseran strategi Persik dalam membangun skuad. Dengan tidak adanya lagi kewajiban memainkan pemain muda, klub lebih leluasa memilih pemain berdasarkan kualitas, bukan usia. Ini bisa menjadi tren bagi klub-klub lain di Super League, mengingat regulasi serupa juga berlaku di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Bagi para pemain yang dilepas, langkah ini justru bisa menjadi peluang baru. Mereka kini bebas mencari klub yang lebih sesuai dengan perkembangan karier mereka. Apakah keputusan Persik ini akan berbuah manis di musim depan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



