Jepang Kucurkan Rp52 Miliar untuk Beasiswa Pejabat Muda Laos
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang menyediakan 378 juta yen (sekitar US$3,2 juta) untuk program beasiswa JDS bagi aparatur sipil Laos.
- Lebih dari 500 pegawai negeri Laos telah menempuh S2 dan S3 di universitas Jepang sejak program ini bergulir.
- Bantuan ini menegaskan komitmen Jepang sebagai mitra pembangunan utama Laos pasca penetapan Kemitraan Strategis Komprehensif 2025.

Pemerintah Jepang kembali menegaskan perannya sebagai mitra pembangunan utama di kawasan Asia Tenggara dengan mengucurkan dana hibah sebesar 378 juta yen, setara lebih dari US$3,2 juta atau sekitar Rp52 miliar, untuk program beasiswa pengembangan sumber daya manusia di Laos. Bantuan tersebut disalurkan melalui Japanese Grant Aid for Human Resource Development Scholarship (JDS), sebuah skema yang telah berjalan lama dan menyasar aparatur sipil negara Laos.
Penandatanganan perjanjian hibah dilakukan di Kementerian Luar Negeri Laos di Vientiane pada Senin (22/6). Dokumen ditandatangani oleh Wakil Menteri Luar Negeri Laos, Anouparb Vongnorkeo, dan Duta Besar Jepang untuk Laos, Koizumi Tsutomu. Acara tersebut disaksikan oleh pejabat senior kedua negara. Anouparb menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Jepang yang dinilainya telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan taraf hidup rakyat Laos dan pembangunan nasional.
Program JDS telah menjadi salah satu pilar kerja sama bilateral Jepang-Laos. Sejak diperkenalkan, lebih dari 500 pegawai negeri muda Laos berhasil meraih gelar master dan doktor di universitas-universitas terkemuka Jepang. Mereka menempuh pendidikan di berbagai bidang, mulai dari administrasi publik, ekonomi, hubungan internasional, hingga pertanian dan manajemen lingkungan. Para lulusan program ini kemudian menerapkan ilmu yang diperoleh dalam tugas profesional mereka dan turut mendorong pembangunan sosial-ekonomi Laos.
Dukungan Jepang tidak terbatas pada pendidikan tinggi. Negeri Sakura juga telah membangun dan merenovasi sekolah di daerah terpencil, memperbaiki pusat pelatihan guru provinsi, meningkatkan lingkungan belajar, serta menyediakan peralatan pendidikan dan beasiswa bagi pelajar Laos. Lebih luas lagi, Jepang merupakan salah satu mitra pembangunan kunci Laos di sektor infrastruktur, kesehatan masyarakat, pertanian dan kehutanan, pengembangan sumber daya manusia, serta penanggulangan bencana. Jepang juga berkontribusi besar dalam upaya pembersihan ranjau darat (UXO) dan bantuan bagi komunitas terdampak bencana alam.
Bagi Indonesia, pola kemitraan Jepang-Laos ini dapat menjadi referensi. Jepang selama ini juga menjadi mitra strategis Indonesia dalam pengembangan SDM melalui program beasiswa serupa, seperti JDS yang juga terbuka bagi pegawai negeri Indonesia. Namun, jumlah penerima beasiswa Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan Laos jika dilihat dari proporsi jumlah aparatur sipil. Model pendekatan Jepang yang terintegrasi—dari pendidikan tinggi hingga pembangunan infrastruktur pendidikan dasar—menunjukkan pentingnya konsistensi dan kesinambungan program.
Dengan ditandatanganinya Kemitraan Strategis Komprehensif antara Jepang dan Laos pada 2025, hubungan bilateral kedua negara memasuki babak baru. Anouparb berharap Laos akan terus menerima dukungan Jepang di masa mendatang. Sementara itu, Duta Besar Koizumi menegaskan kembali komitmen Jepang untuk bekerja sama erat dengan pemerintah Laos guna memajukan hubungan persahabatan dan memperkuat kemitraan strategis tersebut. Pertanyaannya, akankah model kerja sama semacam ini dapat direplikasi di negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, dengan skala yang lebih besar?



