Korea Utara Resmi Luncurkan Kapal Perusak 5.000 Ton, Target Dua Kapal Perang Besar per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pyongyang meresmikan kapal perusak Choe Hyon seberat 5.000 ton di pelabuhan Nampho, menandai modernisasi angkatan laut yang sebelumnya dianggap lemah.
- Kim Jong Un memerintahkan pembangunan dua kapal permukaan setiap tahun, termasuk kapal penjelajah 10.000 ton, sebagai bagian dari rencana pertahanan lima tahun hingga 2030.
- Program persenjataan nuklir angkatan laut disebut berjalan sesuai rencana, memicu kekhawatiran di kawasan Asia Timur dan berimplikasi pada stabilitas keamanan Indonesia.

Korea Utara secara resmi menugaskan kapal perusak baru seberat 5.000 ton, Choe Hyon, dalam sebuah upacara di pelabuhan barat Nampho pada Selasa (24/6). Pemimpin Kim Jong Un menyatakan bahwa angkatan laut negaranya, yang sebelumnya dianggap sebagai cabang militer terlemah, kini tengah bertransformasi menjadi kekuatan yang tangguh di kawasan.
Dalam sambutannya yang disiarkan oleh Korean Central News Agency (KCNA), Kim menegaskan bahwa era di mana angkatan laut hanya berfungsi sebagai pertahanan pesisir telah berakhir. Ia menyebut kemampuan tempur armada lautnya akan "tumbuh menjadi sesuatu yang mengagumkan di luar imajinasi." Kapal Choe Hyon sendiri pertama kali diluncurkan pada April tahun lalu dan kini resmi beroperasi.
Lebih jauh, Kim menginstruksikan pembangunan dua kapal permukaan setiap tahun dengan kelas yang lebih tinggi dari Choe Hyon, termasuk kapal penjelajah seberat 10.000 ton. Selain itu, ia meminta percepatan pembangunan pangkalan angkatan laut besar dan multifungsi yang mampu menampung kapal-kapal tersebut. Rencana ini merupakan bagian dari program pertahanan nasional lima tahun yang berlangsung hingga 2030.
Pernyataan Kim juga menyinggung program persenjataan nuklir angkatan laut yang disebutnya "berjalan sesuai rencana tanpa penyimpangan." Ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengamat militer, mengingat Korea Utara terus mengembangkan rudal balistik berbasis kapal selam dan sistem senjata bawah air lainnya. Langkah ini dipandang sebagai upaya Pyongyang untuk menyeimbangkan kekuatan dengan Korea Selatan dan Jepang yang didukung Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, eskalasi militer di Semenanjung Korea berimplikasi langsung pada stabilitas keamanan regional. Sebagai negara yang aktif dalam forum ASEAN dan mitra dialog Korea Utara, Jakarta perlu mencermati potensi dampak perlombaan senjata di Asia Timur. Peningkatan kemampuan angkatan laut Korea Utara juga dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan dan jalur pelayaran strategis yang menjadi kepentingan nasional Indonesia.
Menurut analis pertahanan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, langkah Korea Utara ini menunjukkan pergeseran doktrin dari pertahanan pantai menjadi proyeksi kekuatan laut. "Jika Pyongyang benar-benar mampu membangun kapal penjelajah 10.000 ton dan mempersenjatainya dengan hulu ledak nuklir, maka peta kekuatan di Pasifik Barat akan berubah secara signifikan," ujarnya. Namun, ia meragukan kemampuan industri pertahanan Korea Utara untuk memenuhi target ambisius tersebut mengingat sanksi internasional yang masih berlaku.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana respons Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat terhadap modernisasi angkatan laut Korea Utara ini. Apakah akan memicu perlombaan senjata baru di kawasan? Atau justru membuka peluang diplomasi? Yang jelas, langkah Kim Jong Un kali ini bukan sekadar gertakan, melainkan sinyal bahwa Pyongyang serius membangun kekuatan laut yang mampu mengancam lawan-lawannya.



