Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS: Sinyal The Fed Hawkish dan Dampaknya ke Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,36% ke Rp17.900 per dolar AS pada Rabu (24/6/2026), level terlemah dalam lebih dari setahun, dipicu penguatan indeks dolar AS ke level tertinggi 13 bulan.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed melonjak setelah rapat FOMC pertama di bawah Kevin Warsh, dengan peluang kenaikan di September mencapai 69,1%.
- Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin dalam sebulan terakhir untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah era suku bunga tinggi global.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendah dalam lebih dari satu tahun, menembus Rp17.900 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang kian agresif, dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitif, rupiah dibuka di posisi Rp17.900 per dolar AS, melemah 0,36% dibandingkan penutupan Selasa di Rp17.835. Tekanan ini melanjutkan tren negatif yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pagi ini tercatat di level 101,432, menguat tipis 0,03% dan menjadi yang tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Penguatan dolar AS ini menekan hampir seluruh mata uang utama dunia, termasuk rupiah.
Pasar keuangan global tengah menyesuaikan diri dengan sikap hawkish The Federal Reserve setelah rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Hasil rapat tersebut diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Data dari CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli melonjak menjadi 36,3% dari sebelumnya hanya 8,5% sepekan lalu. Sementara itu, peluang kenaikan pada September naik drastis menjadi 69,1% dari 29,1%.
Kondisi ini menjadi ujian berat bagi Bank Indonesia (BI) yang terus berupaya menstabilkan rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengakui bahwa pelemahan nilai tukar saat ini bersifat global, bukan hanya dialami Indonesia. Ia menyebut fenomena "higher for longer" sebagai tantangan utama, di mana suku bunga global diperkirakan tetap tinggi dalam jangka waktu panjang.
"Kita lihat memang untuk nilai tukar, hampir semua negara juga mengalami pelemahan nilai tukar, karena saat ini yang terjadi adalah juga kita menghadapi situasi di global, istilahnya adalah higher for longer," ujar Destry.
Menurut Destry, langkah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir merupakan upaya untuk menjaga daya tarik instrumen keuangan rupiah bagi investor asing. Dengan imbal hasil yang lebih tinggi, diharapkan aliran modal asing tetap masuk dan menopang nilai tukar. "Kita berharap tentunya dengan suku bunga yang meningkat, itu akan meningkatkan daya tarik dari instrumen rupiah kita bagi offshore investor atau investor asing," imbuhnya.
Namun, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Pasar masih menanti data inflasi AS, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index periode Mei, yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi The Fed dalam menentukan langkah selanjutnya. Jika inflasi masih tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga akan semakin kuat, dan dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut.
Bagi Indonesia, situasi ini menimbulkan dilema kebijakan. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar dengan suku bunga tinggi. Di sisi lain, suku bunga yang tinggi dapat menekan pertumbuhan ekonomi domestik. Destry menegaskan bahwa saat ini belum saatnya membicarakan penurunan suku bunga. "Kita harus mempertahankan daya tarik dari instrumen keuangan kita, yang tentunya juga kita harapkan, memang dalam kondisi saat ini ya, kita jangan bicara dulu deh untuk BI Rate-nya turun gitu, enggak," tegasnya.
Pertanyaan besarnya kini: seberapa lama rupiah mampu bertahan di bawah tekanan dolar AS yang terus menguat? Dengan sinyal hawkish The Fed dan data inflasi AS yang masih belum jelas, pasar akan terus mencermati langkah BI selanjutnya. Apakah kebijakan suku bunga tinggi cukup untuk membendung arus modal keluar, atau diperlukan intervensi yang lebih agresif?



