Harga Minyak Dunia Kembali Terjun Bebas, Brent Tembus US$76 per Barel
Baca dalam 60 detik
- Kontrak Brent dan WTI anjlok lebih dari 15% dalam sembilan hari terakhir, dipicu meredanya ketegangan di Selat Hormuz.
- Kelonggaran sanksi AS ke Iran dan kesepakatan diplomatik Oman-Iran membuka jalur pasokan, menekan harga minyak global.
- CEO Saudi Aramco memperingatkan pemulihan pasokan tidak instan; stok global terkuras dan stabilisasi baru terlihat pada 2027.

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan Rabu pagi (24/6/2026), dengan kontrak Brent terperosok ke level US$76,44 per barel—terendah dalam lebih dari sebulan terakhir. Anjlok ini memperpanjang tren bearish yang telah berlangsung sejak pertengahan Juni, ketika kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda seiring progres diplomasi di kawasan.
Berdasarkan data Refinitiv, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terkoreksi 0,82% ke posisi US$72,61 per barel. Dalam sembilan hari perdagangan terakhir, Brent telah kehilangan sekitar 15% nilainya dari level US$90,38 per barel pada 11 Juni, sementara WTI ambrol lebih dari 17% dari posisi US$87,71 per barel. Aksi jual besar-besaran ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang kini lebih optimistis terhadap kelancaran distribusi energi global.
Katalis utama pelemahan harga adalah kabar bahwa sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan akibat konflik Iran mulai bersiap melintasi Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Washington juga memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari kepada Teheran setelah dimulainya pembicaraan damai awal, membuka peluang Iran untuk tetap mengekspor minyak ke pasar internasional. Langkah ini menambah ekspektasi pasokan global yang lebih longgar.
Perkembangan diplomatik lain turut menekan harga. Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan tata kelola pelayaran di Selat Hormuz, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa upaya Iran mengenakan biaya transit bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan itu memperkuat keyakinan bahwa jalur perdagangan energi akan tetap terbuka tanpa hambatan berarti.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya menghapus premi risiko geopolitik. Klaim Presiden Donald Trump bahwa Iran menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu langsung dibantah Teheran, menimbulkan keraguan di kalangan investor. Perbedaan sikap ini membuat sebagian pelaku pasar masih waspada terhadap kemungkinan eskalasi baru yang bisa membalikkan tren penurunan.
Di sisi lain, normalisasi arus minyak dari kawasan Teluk diperkirakan tidak berlangsung instan. Proses pengaturan lalu lintas kapal, pengoperasian kembali sumur minyak, pemulihan infrastruktur, hingga pembersihan ranjau laut membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sejumlah pemilik kapal masih mempertimbangkan risiko operasional sebelum kembali berlayar penuh di kawasan tersebut. Analis menilai persediaan minyak global telah terkuras selama periode gangguan, sehingga stok komersial dunia berpotensi terus menyusut dalam jangka pendek.
Peringatan serius datang dari Saudi Aramco. CEO Amin Nasser, seperti dikutip The Economic Times, mengingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berisiko menunda stabilisasi pasar minyak global hingga 2027. Menurutnya, jalur tersebut dapat memengaruhi hampir 100 juta barel pasokan minyak per minggu. Tanpa pemulihan penuh, volatilitas harga diperkirakan masih akan mewarnai pasar energi dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak mentah memberikan angin segar bagi anggaran negara—terutama subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi. Apakah tren penurunan ini akan berlanjut atau hanya jeda sebelum gelombang baru ketegangan? Jawabannya bergantung pada sejauh mana diplomasi di Timur Tengah mampu menjaga stabilitas pasokan.



