AS Sita Hampir 400 Domain Pembajak Siaran Piala Dunia, Pengguna Berisiko Kena Malware
Baca dalam 60 detik
- Departemen Kehakiman AS menyita 396 domain yang digunakan untuk streaming ilegal Piala Dunia 2026, bekerja sama dengan FIFA dan studio film.
- Penyitaan ini menargetkan jaringan internasional yang meraup keuntungan dari popularitas turnamen, dengan server di Peru, Bulgaria, dan negara lainnya.
- Pembajakan siaran langsung tidak hanya melanggar hak cipta, tetapi juga membuka celah keamanan siber bagi penonton, termasuk risiko malware dan pencurian data.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Kehakiman (DOJ) mengumumkan penyitaan hampir 400 domain internet yang digunakan untuk menyiarkan secara ilegal pertandingan Piala Dunia 2026. Langkah ini merupakan bagian dari operasi internasional untuk membongkar jaringan pembajakan yang memanfaatkan tingginya minat global terhadap turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Domain-domain tersebut diidentifikasi dengan bantuan FIFA, NBC Universal, dan Warner Brothers. Menurut DOJ, situs-situs itu menawarkan siaran langsung pertandingan secara real-time tanpa izin dari pemegang hak siar. Tindakan ini tidak hanya merugikan industri hiburan, tetapi juga membahayakan pengguna yang mengakses konten bajakan.
Eric Weindorf, agen khusus yang memimpin investigasi di Homeland Security Investigations, menegaskan bahwa para pembajak tidak hanya melanggar hukum hak cipta, tetapi juga mengekspos penonton pada ancaman siber. "Streaming ilegal dapat mengandung malware dan koneksi tidak aman yang membahayakan data pribadi dan keuangan," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Bagi Indonesia, fenomena pembajakan siaran langsung bukanlah hal baru. Maraknya situs ilegal yang menayangkan pertandingan sepak bola, termasuk Piala Dunia, kerap menjadi keluhan pemegang hak siar resmi seperti MNC Media atau Emtek. Langkah tegas AS ini bisa menjadi preseden bagi aparat penegak hukum di Indonesia untuk lebih agresif memberantas pembajakan digital, terutama saat ajang olahraga besar berlangsung.
Piala Dunia 2026 sendiri mencatat rekor kehadiran penonton di stadion, menurut FIFA. Data Nielsen menunjukkan bahwa pertandingan pekan lalu menjadi salah satu tayangan televisi paling banyak ditonton, dengan laga AS melawan Australia memuncaki daftar. Popularitas turnamen ini justru menjadi magnet bagi pelaku pembajakan untuk meraup keuntungan ilegal.
Ke depan, kolaborasi internasional seperti yang dilakukan DOJ dengan FIFA dan perusahaan media diperkirakan akan semakin intensif. Pertanyaannya, apakah platform legal dan otoritas di Indonesia siap mengadopsi langkah serupa untuk melindungi hak siar dan keamanan pengguna?



