Durian Murah Hingga Agustus: Petani Cari Akal di Tengah Tsunami Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Harga durian di Malaysia anjlok hingga RM9 per kilogram akibat panen raya yang membanjiri pasar sejak Juni hingga Agustus.
- Durian kelas ekspor (Grade A/AB) masih bertahan di kisaran RM30โRM40 per kg, sementara kelas bawah terpukul paling keras.
- Petani beralih ke penjualan langsung, tur kebun, dan siaran langsung TikTok untuk menyiasati kelebihan pasokan.

Musim durian tahun ini membawa berkah bagi para pencinta raja buah di Malaysia: harga melorot drastis sejak Juni dan diperkirakan tetap rendah hingga Agustus. Fenomena yang disebut "durian tsunami" ini dipicu panen raya serentak di beberapa negara bagian, menciptakan gelombang pasokan yang membuat harga Musang King jatuh hingga RM9 per kilogram.
Bagi konsumen seperti Lim Mei Ling, staf administrasi berusia 34 tahun, penurunan harga ini adalah kejutan yang menyenangkan. "Biasanya saya berpikir dua kali sebelum membeli Musang King. Sekarang saya bisa menikmati durian premium ini dan menyisihkan sebagian untuk nanti," ujarnya. Insinyur Kelvin Tan (41) bahkan rela bepergian dari Kuala Lumpur ke Raub bersama teman-temannya untuk memanfaatkan harga murah. "Ini kesempatan langka menikmati Musang King tanpa merogoh kocek dalam," katanya.
Namun, di balik kegembiraan konsumen, industri durian Malaysia tengah menghadapi ujian berat. Presiden Asosiasi Produsen Durian, Eric Chan, menjelaskan bahwa volume besar durian dari Perak, Penang, dan Johor masuk pasar secara bersamaan. "Penurunan harga terjadi karena banyak buah tidak memenuhi persyaratan ekspor, terutama ke China," katanya. Chan menyebut situasi ini sebagai koreksi pasar alami setelah satu dekade ekspansi industri. "Selama sepuluh tahun terakhir harga terus naik. Di setiap sektor komoditas, pasti akan ada periode restrukturisasi dan konsolidasi seiring matangnya rantai pasok," tambahnya.
Pemilik kebun durian, Stephen Chow, menegaskan bahwa durian kelas ekspor relatif terlindung dari penurunan harga. "Grade A dan AB yang memenuhi syarat ekspor masih dijual RM30 hingga RM40 per kg. Dampak terbesar dirasakan Grade C dan buah berukuran kecil," jelasnya. Kondisi ini mendorong banyak pekebun mencari cara alternatif menjangkau konsumen, seperti siaran langsung TikTok, penjualan langsung, tur kebun, dan prasmanan durian. "Banyak kebun di Bentong dan Raub membuka pintu untuk pengunjung. Orang datang bukan hanya untuk durian, tetapi juga untuk pengalamannya," kata Chow.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Buah Johor, Melvin Long, menambahkan bahwa perluasan areal tanam durian dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama. "Banyak pohon yang ditanam antara 2015 dan 2020 kini mencapai produksi penuh. Beberapa negara bagian panen bersamaan, dan kondisi cuaca mendukung, sehingga volume besar durian masuk pasar dalam waktu singkat," ujarnya. Meskipun terjadi kelebihan pasokan, Long yakin Musang King berkualitas tinggi yang memenuhi standar ekspor dan memiliki merek kuat akan tetap berada di segmen premium.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dinamika pasar durian regional. Dengan permintaan China yang terus tumbuh, fluktuasi pasokan di Malaysia bisa mempengaruhi harga durian impor di Indonesia, terutama jika Malaysia membanjiri pasar domestik dengan durian kelas bawah. Namun, peluang juga terbuka bagi petani durian Indonesia untuk memperkuat kualitas dan merek mereka agar mampu bersaing di segmen premium. Pertanyaannya, apakah industri durian Indonesia siap memanfaatkan celah ini atau justru ikut terombang-ambing dalam tsunami pasokan berikutnya?



