Cerebras Raup Pendapatan di Atas Ekspektasi, tapi Marjin Kotor Jauh Tertinggal dari Nvidia
Baca dalam 60 detik
- Cerebras Systems memproyeksikan pendapatan 2026 sebesar US$855–865 juta, melampaui perkiraan analis, namun sahamnya terperosok 7,8% karena marjin kotor yang tipis.
- Marjin kotor Cerebras yang hanya 38–41% kontras dengan Nvidia (70%) dan AMD (50%), mengindikasikan tantangan berat dalam menyaingi dominasi AI chip.
- Kemitraan besar dengan OpenAI senilai US$20 miliar menjadi andalan pertumbuhan, tetapi biaya produksi chip raksasa disebut sebagai penyebab utama rendahnya profitabilitas.

Cerebras Systems, pendatang baru di pasar chip kecerdasan buatan (AI), mencatatkan proyeksi pendapatan 2026 yang melampaui ekspektasi analis, namun investor justru merespons negatif setelah perusahaan mengungkapkan marjin kotor yang jauh di bawah para pesaing utamanya. Saham Cerebras ambles 7,8% dalam perdagangan setelah jam bursa pada Selasa (23/6) waktu setempat, menandai debut laporan keuangan yang pahit pasca-penawaran umum perdana (IPO) senilai US$5,5 miliar bulan lalu.
Perusahaan yang berbasis di Sunnyvale, California, itu memperkirakan pendapatan setahun penuh 2026 berkisar antara US$855 juta hingga US$865 juta, lebih tinggi dari konsensus analis yang dipantau LSEG sebesar US$823,9 juta. Namun, proyeksi marjin kotor hanya 38–41%, turun dari 45% pada kuartal pertama. Meski masih di atas estimasi analis yang hanya 29,58%, angka itu kontras dengan marjin kotor Nvidia yang berada di kisaran 70% dan Advanced Micro Devices (AMD) di kisaran 50%.
Ben Bajarin, CEO firma konsultan teknologi Creative Strategies, menilai pendekatan Cerebras yang memproduksi chip berukuran sangat besar—dikenal sebagai wafer-scale chip—menjadi biang keladi rendahnya marjin. "Chip raksasa semacam itu sulit diproduksi dengan tingkat kegagalan yang tinggi, sehingga menekan biaya produksi," ujarnya. Cerebras mengandalkan chip CS-2 yang seukuran wafer penuh, berbeda dengan pendekatan Nvidia yang menggunakan chip lebih kecil dan terintegrasi.
Cerebras memfokuskan diri pada segmen inference, yaitu proses di mana model AI merespons pertanyaan pengguna secara real-time. Pasar ini menjadi medan pertempuran baru di luar training yang selama ini dikuasai Nvidia. Pertumbuhan Cerebras sebagian besar ditopang oleh kemitraan multi-tahun senilai US$20 miliar dengan OpenAI, induk ChatGPT, yang akan memasang chip Cerebras berkapasitas 750 megawatt. Namun, ketergantungan pada satu klien besar menimbulkan risiko konsentrasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat geliat adopsi AI di dalam negeri—mulai dari layanan chatbot hingga analitik bisnis—yang membutuhkan infrastruktur inference mumpuni. Jika Cerebras mampu menekan biaya produksi, harganya bisa lebih kompetitif bagi penyedia layanan cloud di Indonesia yang selama ini bergantung pada Nvidia. Namun, rendahnya marjin menunjukkan bahwa Cerebras belum memiliki skala ekonomi yang cukup untuk bersaing dalam jangka panjang.
Ke depan, Cerebras harus membuktikan bahwa strategi chip raksasanya mampu menghasilkan profitabilitas yang berkelanjutan. Pertanyaan yang menggantung: mampukah Cerebras mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan sambil memperbaiki marjin, atau justru akan tergerus oleh efisiensi Nvidia dan AMD yang sudah mapan?



