Bank Sentral Nigeria Serap N2,1 Triliun Lewat OMO Bills, Likuiditas Pasar Menyusut Drastis
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Nigeria mengalokasikan surat utang OMO senilai N2,1 triliun kepada bank dan investor asing dalam dua lelang berturut-turut.
- Langkah ini mengeringkan likuiditas pasar uang dari N3,66 triliun menjadi hanya N0,09 triliun dalam dua hari perdagangan.
- Suku bunga yang ditawarkan mencapai 20,75% untuk tenor pendek, menunjukkan strategi agresif pengendalian inflasi.

Bank Sentral Nigeria (CBN) menggelontorkan alokasi surat berharga Open Market Operation (OMO) senilai total N2,1 triliun kepada bank umum dan investor portofolio asing dalam lelang yang digelar pada Senin dan Selasa pekan ini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi moneter ketat untuk menyerap kelebihan likuiditas dan menekan tekanan inflasi yang masih tinggi di negara ekonomi terbesar Afrika tersebut.
Pada lelang Senin, CBN menawarkan dua tenor pendek, yakni 99 hari dan 134 hari, dengan total penawaran yang masuk mencapai N2,1 triliun. Bank sentral akhirnya mengalokasikan seluruh jumlah tersebut dengan tingkat suku bunga stop rate masing-masing 20,75% dan 19,99%. Keesokan harinya, lelang kembali digelar dengan menawarkan N600 miliar untuk tenor 70 hari dan 140 hari, melanjutkan aksi penyerapan likuiditas.
Dampak langsung dari operasi moneter ini terasa di pasar uang. Menurut laporan Futureview Financial Limited, likuiditas sistem merosot tajam dari posisi N3,66 triliun menjadi hanya N0,09 triliun setelah dua hari berturut-turut sterilisasi melalui penjualan OMO. Kondisi ini mencerminkan betapa agresifnya CBN dalam mengerem peredaran uang, terutama setelah pembayaran kembali surat utang negara (Treasury Bills) yang sempat menambah likuiditas.
Menariknya, minat investor asing terhadap OMO tenor 140 hari yang jatuh tempo November 2026 sangat besar. Total penawaran mencapai N1,561 triliun, dan CBN menyetujui alokasi sebesar N1,524 triliun dengan stop rate 19,99%. Sementara itu, OMO tenor 99 hari yang jatuh September 2026 hanya menarik N538 miliar, namun tetap dialokasikan penuh. Perbedaan ini menunjukkan preferensi investor pada tenor yang lebih panjang dengan imbal hasil yang masih kompetitif.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, langkah CBN ini memberikan gambaran bagaimana bank sentral di negara berkembang menghadapi dilema serupa: menekan inflasi tanpa mematikan pertumbuhan. Dengan suku bunga OMO di atas 20%, Nigeria menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat masih menjadi andalan utama. Di dalam negeri, Bank Indonesia juga tengah bergulat dengan stabilitas nilai tukar dan inflasi, meskipun tingkat suku bunga acuan masih jauh lebih rendah di kisaran 6%.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah CBN akan melanjutkan lelang OMO dengan volume serupa atau mulai mengurangi intensitasnya seiring meredanya tekanan likuiditas. Pertanyaan besarnya, sejauh mana kebijakan ini mampu mengendalikan inflasi tanpa memicu perlambatan ekonomi yang lebih dalam?



