AI Mengguncang Rak Buku Self-Help: Bisakah Penulis Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Penulis buku self-help ternama Tim Ferriss memprediksi penjualan bukunya akan turun 80% pada 2026 akibat kehadiran AI seperti ChatGPT yang meringkas isi buku.
- Data Publisher's Weekly menunjukkan penjualan buku self-help global turun 26,3% pada kuartal pertama 2025 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
- Para pakar melihat pergeseran ke aplikasi coaching dan konten digital, namun kebutuhan akan bimbingan diri tetap ada selama manusia masih memiliki rasa tidak aman.

Kehadiran kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT tidak hanya mengubah cara orang mencari informasi, tetapi juga mulai menggerus industri buku self-help yang selama puluhan tahun menjadi primadona penerbitan. Penulis buku laris Tim Ferriss, yang dikenal lewat The 4-Hour Work Week, secara terbuka menyebut AI sebagai "pembunuh" industri buku panduan, dengan proyeksi penurunan penjualan hingga 80 persen pada 2026.
Ferriss, dalam sebuah unggahan blog, memetakan penjualan lima bukunya dan menemukan penurunan tajam mulai 2023—tepat setelah ChatGPT diluncurkan. Ia memprediksi bahwa pada 2026, katalog bukunya hanya akan terjual seperlima dari volume tahun 2022. "Menggunakan buku saya sendiri sebagai mayat di meja operasi, inilah yang disebut kematian," tulisnya.
Data dari Publisher's Weekly memperkuat kekhawatiran itu: penjualan buku self-help global pada kuartal pertama 2025 anjlok 26,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Mark Manson, penulis The Subtle Art of Not Giving a F*ck, bahkan menyatakan tahun lalu bahwa "self-help sudah matang". Namun, Pippa Wright, direktur penerbitan Penguin Life, mengingatkan bahwa nonfiksi selalu bersiklus—naik turun mengikuti tren pasar.
Wright menilai bahwa jenis buku self-help yang "mungkin sudah mati" adalah buku preskriptif dengan lima poin-poin ringkas. "Jika informasinya bisa diringkas dalam satu paragraf, mengapa harus membeli bukunya?" ujarnya. Pembaca kini mencari riset mutakhir, keahlian, atau tulisan yang kuat—bukan sekadar daftar tips.
Fenomena ini juga terlihat dari reaksi publik terhadap pernyataan Steven Bartlett, pembawa acara Diary of a CEO, yang mengaku bahwa beberapa gelas anggur "merusak tiga hari hidupnya". Kritik terhadap gaya hidup super-produktif semacam itu menunjukkan kelelahan terhadap budaya perbaikan diri yang kaku.
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Maraknya konten pengembangan diri di platform seperti TikTok dan Instagram—dalam bentuk video pendek, infografik, atau podcast—menjadi alternatif instan bagi buku cetak. Banyak pengguna lebih memilih ringkasan AI atau konten gratis daripada membeli buku. Penerbit lokal pun mulai beradaptasi dengan menerbitkan e-book interaktif dan konten digital pendamping.
Namun, kebutuhan akan bimbingan diri tidak akan pernah hilang. Joe Pine, penulis The Transformation Economy, mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah "kumpulan aspirasi" yang terus mencari cara memperbaiki diri. Selama rasa tidak aman dan perbandingan sosial masih ada, pasar perbaikan diri akan tetap hidup—hanya bentuknya yang berubah.
Para guru self-help seperti Tony Robbins, Mark Manson, dan Gabby Bernstein kini beralih ke aplikasi coaching. "Jika saya tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya dengan cara yang tidak selaras dengan kebenaran saya," kata Bernstein kepada Wall Street Journal. Pertanyaannya, mampukah buku self-help bertahan di tengah gempuran AI, atau justru akan berevolusi menjadi format baru yang lebih adaptif?



