Saham Kioxia Anjlok 12%: Kekhawatiran IPO OpenAI Mengguncang Pasar Chip Asia
Baca dalam 60 detik
- Saham Kioxia ambles 12% setelah laporan OpenAI menunda IPO, memicu aksi jual saham terkait AI di Asia.
- Kioxia berencana melakukan stock split dan mencatatkan saham di bursa AS pada awal tahun fiskal 2028, menargetkan ekspansi basis investor.
- Langkah ini mencerminkan optimisme Kioxia terhadap kinerja jangka pendek, namun juga menunjukkan kerentanan sektor chip terhadap sentimen global.

Saham produsen chip asal Jepang, Kioxia Holdings, merosot tajam 12 persen pada Jumat (26/6) setelah kabar bahwa OpenAI, pengembang ChatGPT, mempertimbangkan untuk menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) mereka. Aksi jual ini menyebar ke saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) di Asia, mengguncang kepercayaan investor yang sebelumnya optimistis terhadap sektor tersebut.
Kioxia, yang sebelumnya dikenal sebagai Toshiba Memory dan dipisahkan dari Toshiba pada 2018, merupakan pemain utama dalam produksi memori flash NAND. Saham perusahaan ini sempat melesat berkat gelombang investasi AI yang mendorong permintaan chip, bahkan menjadikannya perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di indeks Nikkei 225. Namun, kerentanan terhadap sentimen global kembali teruji setelah laporan dari New York Times menyebutkan bahwa CEO OpenAI, Sam Altman, menginginkan valuasi US$1 triliun sebelum melantai di bursa, yang berpotensi menunda IPO hingga tahun depan.
Di tengah tekanan pasar, Kioxia justru mengumumkan rencana strategis untuk melakukan pemecahan saham (stock split) dan mencatatkan American Depositary Shares (ADS) di bursa Amerika Serikat pada awal tahun fiskal berikutnya, yang berakhir Maret 2028. "Apakah itu April, Mei, atau Juni belum jelas, tapi kami berharap bisa listing sekitar waktu itu," ujar Chief Financial Officer Yoshihiko Kawamura dalam rapat umum pemegang saham tahunan Kioxia, Kamis (25/6).
Langkah Kioxia untuk melantai di bursa AS merupakan bagian dari tren lebih luas di kalangan perusahaan teknologi Asia yang ingin memperluas basis investor mereka. Pekan ini, produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, mengumumkan rencana untuk menggalang dana hingga US$29,4 miliar melalui pencatatan saham di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi gejolak jangka pendek, ambisi ekspansi global perusahaan chip Asia tetap kuat.
Analis Douglas Kim dari platform Smartkarma menilai bahwa jadwal listing yang diusulkan Kioxia mencerminkan keyakinan tinggi manajemen terhadap kemampuan perusahaan untuk terus menghasilkan kinerja gemilang dalam 9-12 bulan ke depan. "Kerangka waktu untuk menyelesaikan penawaran ini menunjukkan bahwa Kioxia sangat percaya diri dengan prospeknya," tulis Kim. Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar dan ketidakpastian regulasi di AS bisa menjadi batu sandungan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tidak langsung. Sebagai negara dengan ekosistem teknologi yang berkembang, termasuk pusat data dan adopsi AI, fluktuasi harga saham chip global dapat mempengaruhi biaya impor komponen elektronik. Selain itu, minat perusahaan chip Asia untuk listing di AS bisa membuka peluang bagi investor Indonesia untuk diversifikasi portofolio, namun juga meningkatkan risiko paparan terhadap gejolak pasar modal AS.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah penundaan IPO OpenAI akan menjadi sinyal koreksi di sektor AI yang selama ini melambung tinggi, atau hanya sekadar jeda sementara. Jawabannya akan sangat menentukan arah pergerakan saham-saham chip seperti Kioxia dalam beberapa bulan mendatang.



