Kebakaran Melanda Gedung Bapenda DKI Jakarta, 20 Unit Damkar Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Gedung Bapenda DKI Jakarta di Jalan Abdul Muis terbakar Jumat malam, memicu mobilisasi besar-besaran petugas pemadam.
- Operasi pemadaman masih berlangsung dengan status merah; penyebab dan kerugian belum dapat dipastikan.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan aset vital pemerintah daerah dan pentingnya audit keselamatan gedung.

Kebakaran melanda Gedung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta di Jalan Abdul Muis No. 66, Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat malam. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat langsung mengerahkan 20 unit mobil pemadam beserta 100 personel untuk menjinakkan si jago merah yang hingga berita ini diturunkan masih berstatus "merah".
Laporan pertama diterima melalui layanan darurat Jakarta Siaga 112 pada pukul 21.30 WIB. Respons awal berupa dua unit pemadam dengan 10 personel langsung meluncur ke lokasi di RT 003/RW 003, Kelurahan Petojo Selatan. Unit pertama tiba pukul 21.40 WIB dan operasi pemadaman dimulai semenit kemudian, menunjukkan kesigapan aparat dalam menghadapi situasi darurat.
Seiring meluasnya api, armada diperbesar menjadi 20 unitโ17 di antaranya berasal dari Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Pusat, sementara tiga unit lainnya merupakan bantuan dari wilayah Pati Kendal. Penambahan pasukan ini mengindikasikan tingkat kesulitan pemadaman yang cukup tinggi, meski petugas terus berupaya melokalisasi api agar tidak merambat ke bangunan di sekitarnya.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab kebakaran, luas area yang terdampak, maupun potensi korban jiwa. Pihak berwenang memastikan penyelidikan akan dilakukan setelah proses pemadaman dan pendinginan selesai. Situasi ini tentu menjadi perhatian publik, mengingat Bapenda adalah institusi kunci dalam pengelolaan pendapatan daerahโmulai dari pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, hingga retribusi lainnya.
Kebakaran ini menyoroti kembali pentingnya standar keselamatan gedung-gedung pemerintahan, khususnya yang menyimpan data dan dokumen vital. Jika api sampai menghanguskan arsip atau server, dampaknya bisa melumpuhkan layanan administrasi warga dan berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang signifikan. Menurut pengamat tata kota, insiden seperti ini kerap menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem proteksi kebakaran, termasuk ketersediaan hydrant, jalur evakuasi, dan pelatihan tanggap darurat bagi pegawai.
Bagi warga Jakarta, peristiwa ini mungkin hanya satu dari sekian berita kebakaran yang kerap terjadi di ibu kota. Namun, yang membedakan adalah fungsi strategis gedung tersebut. Bapenda adalah tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI, yang tahun 2025 ditargetkan mencapai Rp80 triliun lebih. Gangguan operasional di gedung ini bisa berdampak pada target penerimaan pajak, meski pemerintah DKI biasanya memiliki sistem backup dan layanan online.
Ke depan, publik akan menanti hasil investigasi resmi. Pertanyaan besarnya: apakah insiden ini murni faktor teknis, atau ada kelalaian dalam pemeliharaan instalasi listrik? Pengalaman kebakaran gedung-gedung pemerintah di berbagai daerah menunjukkan bahwa penyebab paling umum adalah korsleting listrik. Jika itu yang terjadi, maka audit menyeluruh terhadap seluruh aset milik Pemprov DKI menjadi keniscayaan, bukan sekadar pilihan.
Sementara api masih berusaha dipadamkan, perhatian warga tertuju pada nasib dokumen dan data perpajakan yang tersimpan di dalam gedung. Apakah layanan pembayaran pajak akan terganggu? Bagaimana kontinuitas pelayanan publik? Semua itu masih menunggu kepastian dari pihak berwenang. Satu hal yang pasti: insiden ini menjadi pengingat bahwa keselamatan gedung bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari pelayanan publik yang berkualitas.



