Saksi Kunci Bongkar Kondisi Maradona Sebelum Wafat: Tubuh Membengkak dan Pasrah
Baca dalam 60 detik
- Tukang pijat pribadi Maradona, Nicolas Taffarel, menjadi saksi kunci dalam persidangan dugaan kelalaian medis yang menewaskan legenda sepak bola Argentina itu.
- Taffarel mengaku telah memperingatkan tim dokter tentang kondisi Maradona yang memburuk, namun peringatannya diabaikan dan tidak ditindaklanjuti.
- Persidangan yang melibatkan tujuh tenaga kesehatan ini berpotensi berlangsung hingga akhir Agustus dan bisa berujung pada hukuman penjara hingga 25 tahun.

San Isidro, Argentina โ Pengadilan di Argentina kembali dihebohkan dengan kesaksian mengejutkan dari Nicolas Taffarel, tukang pijat pribadi Diego Maradona, yang mengungkap kondisi fisik dan mental sang legenda sepak bola dunia di hari-hari terakhirnya. Taffarel, yang tampil di persidangan pada Kamis (6/8), menuturkan bahwa Maradona terbaring lemah di tempat tidur, tubuhnya membengkak, dan tampak pasrah menghadapi kematiannya. Kesaksian ini menjadi sorotan utama dalam persidangan yang melibatkan tujuh tenaga kesehatan yang diduga lalai dalam merawat Maradona sebelum ia meninggal dunia pada November 2020.
Dalam kesaksiannya, Taffarel mengungkapkan bahwa ia telah berulang kali memperingatkan tim medis Maradona tentang kondisi sang pemain yang semakin memburuk. โSaya melaporkan masalah yang saya lihat, tetapi tidak ada tindakan nyata atau solusi cepat,โ ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia juga menceritakan bahwa Maradona menolak untuk bangun dari tempat tidur, tidak mau makan, mandi, atau menjaga kebersihan dirinya. โDia bengkak, kakinya bengkak,โ tambah Taffarel, yang mengaku sempat diyakinkan oleh dokter bahwa gejala tersebut akan berlalu. โSaat Anda cemas, Anda mempercayai mereka; Anda bilang pada diri sendiri bahwa ini akan berlalu. Tapi ternyata tidak.โ
Kesaksian ini menjadi krusial karena mengindikasikan adanya kelalaian dalam penanganan medis Maradona, yang meninggal pada usia 60 tahun akibat gagal jantung dan edema paru akut, dua minggu setelah menjalani operasi otak. Taffarel juga mengungkapkan bahwa pada 24 November, sehari sebelum kematian Maradona, ia mencoba membujuknya untuk minum mate, minuman khas Argentina. Namun, Maradona menjawab dengan kalimat ambigu, โAku tidak mau apa-apa, Taffita, sudah.โ Ketika ditanya maksudnya, ia hanya menjawab, โTidak apa-apa, sudah.โ Frasa โya estaโ dalam bahasa Spanyol bisa berarti โtidak apa-apaโ atau โsudah berakhirโ, yang menurut Taffarel menunjukkan kepasrahan Maradona.
Persidangan yang dimulai sejak pertengahan April ini menghadapkan tujuh profesional kesehatan, termasuk dokter bedah, psikiater, dan perawat, pada tuntutan kelalaian yang berkontribusi pada kematian Maradona. Para terdakwa, yang menghadapi hukuman hingga 25 tahun penjara, membantah semua tuduhan. Sebagian besar dari mereka berdalih bahwa spesialisasi dan peran mereka terbatas, serta tidak terkait langsung dengan penyebab klinis kematian. Sidang diperkirakan akan berlanjut hingga akhir Agustus, dengan kesaksian para ahli dan saksi lainnya yang masih akan dihadirkan.
Konteks Indonesia: Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap perawatan medis, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis. Di Indonesia, kasus kelalaian medis sering kali menjadi sorotan, dan putusan pengadilan Argentina ini bisa menjadi referensi bagi penguatan regulasi dan akuntabilitas tenaga kesehatan. Publik Indonesia, yang sangat mengidolakan Maradona, tentu menaruh perhatian besar pada proses hukum ini, mengingat dampaknya terhadap kepercayaan publik pada sistem kesehatan.
Ke depannya, persidangan ini tidak hanya menentukan nasib para terdakwa, tetapi juga menjadi ujian bagi sistem peradilan Argentina dalam menangani kasus yang melibatkan figur publik. Pertanyaan yang menggantung: apakah kesaksian Taffarel akan cukup untuk membuktikan kelalaian medis, atau justru membuka ruang bagi reformasi protokol perawatan pasien berisiko tinggi? Publik menunggu dengan napas tertahan.



