Gila atau Kreatif? Pria Spanyol Habiskan Rp15 Juta untuk Gunting Kuku Diane Keaton
Baca dalam 60 detik
- Seorang konsultan komunikasi asal Spanyol membeli gunting kuku milik mendiang Diane Keaton seharga $960 dalam lelang barang pribadi sang aktris.
- Koleksi unik ini menjadi bagian dari 'laboratorium bercerita' yang ia gunakan untuk membantu klien pariwisata dan budaya menemukan narasi autentik.
- Fenomena ini memicu diskusi tentang nilai sentimental benda sehari-hari milik selebriti, terutama di era di mana kedekatan emosional dengan idola menjadi komoditas.

Gustavo Egusquiza, seorang konsultan komunikasi asal Bilbao, Spanyol, rela merogoh kocek 960 dolar AS—setara sekitar Rp15 juta—untuk membeli sepasang gunting kuku milik mendiang aktris Diane Keaton. Bagi kebanyakan orang, benda itu mungkin tak lebih dari alat perawatan kuku biasa. Namun bagi Egusquiza, gunting kuku tersebut adalah 'kapsul waktu' yang menyimpan jejak kehidupan seorang ikon budaya.
Koleksi Egusquiza memang tak lazim. Selain gunting kuku Keaton—yang meninggal pada Oktober 2025 di usia 79 tahun—ia juga memiliki teko teh milik Whoopi Goldberg dan patung meja bekas pembawa acara legendaris Larry King. Semua benda itu ia peroleh melalui lelang barang pribadi para selebriti. "Saya tidak terlalu tertarik pada nilai uang, saya tertarik pada narasinya," ujarnya kepada BANG Showbiz, seperti dikutip LyndHub.
Menurut Egusquiza, benda-benda sederhana seperti gunting kuku atau teko teh justru memiliki daya tarik yang kuat karena pernah menjadi bagian dari kehidupan pribadi tokoh yang membentuk budaya populer. "Kita tidak bisa mengundang Diane Keaton makan malam, tapi kita bisa memiliki sesuatu yang pernah ada di kamar mandinya, di mejanya, atau di tangannya. Perpaduan antara kelembutan, glamor, dan sedikit kegilaan itu terasa sangat kontemporer bagi saya," tambahnya.
Uniknya, Egusquiza tidak sekadar mengoleksi. Ia menggunakan koleksi ini sebagai alat bantu dalam pekerjaannya sebagai konsultan komunikasi, khususnya untuk proyek-proyek yang berkaitan dengan budaya, pariwisata, dan gaya hidup. "Saya bekerja dengan hotel, destinasi, dan proyek budaya yang menginginkan lebih dari sekadar slogan. Saya membantu mereka menemukan objek, anekdot, atau gestur manusia yang membuat orang mengingat cerita mereka. Koleksi benda selebriti saya semacam laboratorium bercerita," jelasnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama di Indonesia di mana budaya penggemar (fandom) juga sangat kuat. Di Tanah Air, barang-barang milik selebriti seperti pakaian, aksesori, atau bahkan alat musik kerap diperjualbelikan dengan harga tinggi. Namun, kasus Egusquiza menunjukkan bahwa nilai sebuah benda tidak selalu terletak pada fungsinya, melainkan pada cerita yang melekat padanya. "Kemewahan sejati adalah memiliki cerita untuk diceritakan. Dan jika cerita itu dimulai dengan 'suatu kali saya membeli gunting kuku Diane Keaton', itu lebih baik," ujarnya.
Egusquiza mengaku keluarganya mendukung hobi uniknya. "Mereka menyukainya. Saya sudah mengoleksi sejak remaja, saya rasa mereka tidak menganggap saya gila. Jika mereka menganggap saya eksentrik, saya tidak peduli," katanya. Lelang barang milik Keaton sendiri digelar oleh rumah lelang Bonhams pada April 2025, mencakup koleksi seni, pakaian ikonik, dan benda-benda pribadi lainnya. Bonhams menggambarkan koleksi itu sebagai "pilihan yang dikurasi dengan cermat dari seni rupa, interior, mode ikonik, benda pribadi, dan batu loncatan kreatif lainnya".
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah tren mengoleksi benda sehari-hari selebriti ini akan terus berkembang, atau hanya sekadar euforia sesaat? Di era di mana kedekatan dengan idola semakin dikomodifikasi, mungkin kita akan semakin sering melihat benda-benda remeh-temeh milik tokoh terkenal menjadi rebutan kolektor—bukan karena nilainya, melainkan karena cerita yang dibawanya.



