Ghana Siap Kejutkan Inggris di Piala Dunia: 5 Pemain Kunci yang Wajib Diwaspadai
Baca dalam 60 detik
- Ghana datang ke Piala Dunia dengan pergantian pelatih mendadak, namun kemenangan dramatis atas Panama membangkitkan asa lolos ke fase gugur.
- Antoine Semenyo, bintang Manchester City, menjadi ancaman utama meski catatan golnya bersama Ghana masih rendah.
- Caleb Yirenkyi, gelandang muda Nordsjaelland, menjelma sebagai motor serangan setelah dimainkan di posisi naturalnya.

Ghana memasuki Piala Dunia dengan persiapan yang kacau setelah pelatih Otto Addo dipecat hanya 72 hari sebelum turnamen akibat serangkaian hasil buruk. Namun, kedatangan Carlos Queiroz—pelatih berpengalaman yang akan memimpin tim di Piala Dunia kelima kalinya—memberi harapan baru. Kemenangan tipis 1-0 atas Panama di laga pembuka, berkat gol menit akhir Caleb Yirenkyi, membuka peluang Ghana untuk pertama kalinya sejak 2010 menembus babak gugur. Bagi Inggris yang akan berhadapan dengan Ghana, ada lima pemain yang patut diwaspadai.
Bintang utama Ghana tak lain adalah Antoine Semenyo, winger Manchester City yang musim lalu finis ketiga dalam perburuan Sepatu Emas Premier League dengan 17 gol. Pemain 26 tahun itu pindah ke City pada Januari lalu dengan nilai transfer £65 juta dan langsung berkontribusi memenangkan dua trofi, termasuk gol kemenangan di final Piala FA. Keistimewaan Semenyo terletak pada kemampuannya menggunakan kedua kaki secara seimbang—dalam dua musim Premier League terakhir, ia melepaskan 103 tembakan dengan kaki kiri dan 95 dengan kaki kanan, serta bermain merata di kedua sisi sayap. Namun, anomali terjadi di level internasional: hanya tiga gol dalam 35 penampilan bersama Ghana, dan satu gol dalam 28 caps terakhir. Queiroz diharapkan bisa memecahkan teka-teki ini.
Di lini tengah, Caleb Yirenkyi menjadi sorotan setelah gol kemenangan dramatisnya melawan Panama. Gelandang 20 tahun milik Nordsjaelland ini sempat dipasang di posisi bek kanan oleh Addo, namun Queiroz mengembalikannya ke peran natural sebagai gelandang box-to-box. Hasilnya, Yirenkyi menjadi pemain kunci dengan statistik impresif di Liga Denmark: memimpin perolehan bola di sepertiga akhir lawan (26 kali) dan recovery bola (205), serta menempati peringkat ketiga untuk umpan sukses di area lawan (881). Di luar lapangan, ia adalah juara robotika nasional Ghana pada 2019 saat berusia 13 tahun. Kombinasi kecerdasan dan fisiknya membuatnya diburu klub-klub Eropa.
Jordan Ayew, kapten Ghana yang baru saja memecahkan rekor caps (121) melewati saudaranya Andre, menjadi ancaman lain. Pemain 34 tahun yang saat ini tanpa klub setelah dilepas Leicester City justru tampil tajam bersama Ghana: 14 gol dalam 22 penampilan terakhir, termasuk hat-trick melawan Republik Afrika Tengah di kualifikasi. Ironisnya, ia mencetak lebih banyak gol di kualifikasi (7 gol dalam 10 laga) dibandingkan di klub (6 gol dalam 45 laga bersama Leicester). Ayew belum pernah mencetak gol di Piala Dunia dalam dua edisi sebelumnya, dan kini bertekad memecahkan kutukan tersebut.
Brandon Thomas-Asante, penyerang serba bisa Coventry City, menjadi kejutan setelah tampil impresif di Championship dengan 13 gol. Pemain kelahiran Milton Keynes ini memulai karier dari non-liga sebelum menanjak ke West Brom dan Coventry. Di laga debut Piala Dunia melawan Panama, ia langsung memberikan assist untuk gol kemenangan Yirenkyi. Di luar lapangan, Thomas-Asante dikenal dengan gerakan dansanya yang sempat viral di media sosial. Sementara itu, Kamaldeen Sulemana—pemain tercepat di Piala Dunia 2022 dengan kecepatan 22,2 mph—masih menjadi teka-teki. Mantan rekan setimnya di Southampton, Theo Walcott, menyebutnya sebagai pemain tercepat yang pernah ia temani. Namun, produktivitasnya rendah: hanya satu gol dalam 29 caps dan terakhir mencetak gol untuk Atalanta pada Februari lalu.
Bagi Indonesia, performa Ghana di Piala Dunia menarik dicermati karena gaya bermain fisik dan cepat khas Afrika kerap menjadi ujian bagi tim Asia. Kehadiran pemain-pemain seperti Semenyo dan Sulemana yang bermain di liga top Eropa menunjukkan betapa kompetitifnya sepak bola Afrika. Jika Ghana mampu melaju jauh, hal ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah gencar mendatangkan pemain keturunan dan diaspora. Pertanyaan besarnya: mampukah Queiroz menyulap potensi individu menjadi permainan tim yang solid untuk menembus babak 16 besar?



