AC Milan Restrukturisasi Total, RedBird Angkat Massimo Calvelli sebagai CEO Baru
Baca dalam 60 detik
- Massimo Calvelli resmi menjadi CEO AC Milan setelah klub gagal lolos ke Liga Champions dan melakukan perombakan besar-besaran di jajaran manajemen.
- RedBird Capital, pemilik klub, memilih untuk tidak mengisi pos direktur olahraga dan teknis, memberikan kendali lebih langsung kepada Gerry Cardinale.
- Calvelli, mantan CEO ATP Tour, mendapat mandat untuk mengembalikan budaya menang di Milan, dengan pelatih baru Ruben Amorim sudah mulai bekerja.

AC Milan resmi menunjuk Massimo Calvelli sebagai chief executive officer (CEO) baru, menandai babak baru restrukturisasi total di bawah kendali RedBird Capital. Langkah ini diambil sehari setelah Rossoneri gagal lolos ke Liga Champions musim depan, yang memicu pemecatan sejumlah petinggi klub.
Dalam perombakan besar-besaran itu, Milan memecat pelatih Max Allegri, direktur olahraga Igli Tare, CEO Giorgio Furlani, dan direktur teknis Geoffrey Moncada. Keputusan ini diambil setelah klub gagal mencapai target finis di empat besar Serie A, sebuah kegagalan yang dinilai sebagai puncak dari ketidakstabilan manajemen dalam beberapa musim terakhir.
Alih-alih mencari pengganti untuk posisi direktur olahraga dan teknis, RedBird memilih untuk menyederhanakan struktur organisasi. Langkah ini memberikan kewenangan lebih besar kepada pemilik klub, Gerry Cardinale, dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk di bursa transfer. Pertemuan puncak strategi transfer telah digelar di Casa Milan, dihadiri Cardinale, Calvelli, Direktur Perdagangan Pemain Hendrik Almstadt, Direktur Intelijen Sepak Bola Bobby Gardiner, dan kepala pramuka Donato Lomonte.
Dalam pernyataan resmi di situs klub, Cardinale menegaskan bahwa Calvelli telah menunjukkan kemampuan sebagai pemimpin sejak bergabung dengan RedBird tahun lalu. “Massimo telah menjadi penggerak dalam desain organisasi yang menyatukan orang dan membangun budaya kolaborasi dan profesionalisme,” ujar Cardinale. Ia menambahkan bahwa model RedBird sering kali membutuhkan kepemimpinan senior untuk terjun langsung ke dalam investasi terpenting mereka, terutama dalam situasi yang membutuhkan perubahan dan inovasi.
Frasa “kami akan bermain untuk menang, bukan bermain untuk tidak kalah” yang dilontarkan Cardinale dianggap sebagai sindiran terhadap mantan pelatih Allegri, yang dikenal dengan pendekatan pragmatis dan defensif. Allegri saat ini masih berselisih dengan klub terkait pesangon sebelum kemungkinan pindah ke Napoli.
Calvelli sendiri mengaku serius menghadapi tantangan ini. “Kesempatan untuk memimpin AC Milan di momen kritis dalam lintasan sepak bola klub ini, serta dalam kondisi sepak bola Italia secara keseluruhan, adalah sesuatu yang saya tanggapi dengan sangat serius dan rasa urgensi yang mendalam,” kata Calvelli. Ia menyebut mandat dari Cardinale adalah mengembalikan budaya kemenangan dan hasil, baik di dalam maupun di luar lapangan, yang layak dengan warisan klub dan 600 juta penggemar di seluruh dunia.
Calvelli juga mengungkapkan bahwa ia telah bekerja sama dengan pelatih baru Ruben Amorim dan timnya, yang dinilai sudah terintegrasi dengan baik bersama kepemimpinan sepak bola senior yang ada. Amorim, yang sebelumnya menangani Sporting CP, diharapkan membawa filosofi permainan menyerang yang segar ke San Siro.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah AC Milan ini menarik untuk dicermati. Klub raksasa Italia itu memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, dan perubahan manajemen ini bisa berdampak pada strategi transfer pemain, termasuk potensi mendatangkan pemain Asia atau bahkan Indonesia di masa depan. Namun, yang lebih penting, restrukturisasi ini menunjukkan bagaimana klub elite Eropa beradaptasi dengan tekanan finansial dan target prestasi, sebuah pelajaran berharga bagi klub-klub di Liga Indonesia yang juga tengah berbenah.
Pertanyaan besarnya sekarang: akankah strategi “bermain untuk menang” yang digaungkan Cardinale dan Calvelli mampu mengembalikan kejayaan Milan di kancah domestik dan Eropa, atau justru akan menjadi blunder baru di bawah kendali penuh RedBird?



