BI Rate Naik 100 Bps dalam Dua Bulan, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 bps pada Juni 2026, total kenaikan mencapai 100 bps sejak Mei menjadi 5,75%.
- Tekanan global dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik mendorong BI mengorbankan pertumbuhan jangka pendek demi stabilitas nilai tukar.
- Insentif kredit Rp 420 triliun dan aliran masuk asing Rp 103 triliun di SBN/SRBI menjadi bantalan utama di tengah gejolak pasar.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur Juni 2026, menjadikan total akumulasi kenaikan sejak awal Mei mencapai 100 bps. Dengan langkah ini, BI Rate kini berada di level 5,75% — tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan ini diambil di tengah tekanan global yang kian intensif, terutama dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik yang memicu gejolak di pasar keuangan negara berkembang.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter yang ketat merupakan bagian dari mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. “Prioritas kami saat ini adalah stabilitas, namun tetap memastikan langkah-langkah yang diambil tidak menghambat pertumbuhan ekonomi secara berlebihan,” ujarnya dalam program Economic Update CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026). Menurut Destry, tekanan global yang sangat besar memaksa BI untuk mengambil sikap preemptif, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah yang terus tertekan oleh penguatan indeks dolar.
Di luar instrumen suku bunga, BI juga mengandalkan kebijakan makroprudensial dengan memberikan insentif kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Nilai insentif yang sudah digelontorkan mencapai Rp 420 triliun. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit di sektor-sektor produktif tanpa mengorbankan stabilitas. Selain itu, BI memberikan keringanan transaksi bagi UMKM dan memperdalam pasar keuangan untuk menopang nilai tukar rupiah.
Kebijakan moneter yang agresif ini mulai menunjukkan hasil. Hingga Juni 2026, tercatat aliran masuk bersih (net inflow) investor asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai lebih dari Rp 103 triliun. Angka ini menjadi sinyal bahwa kenaikan suku bunga mampu meningkatkan daya tarik instrumen rupiah di tengah ketidakpastian global. Namun, Destry mengingatkan bahwa situasi masih dinamis dan BI akan terus memonitor perkembangan.
Dari sisi eksternal, BI menyoroti dampak konflik geopolitik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi. Hal ini berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berpotensi mengerek inflasi. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas seperti batu bara menjadi peluang bagi peningkatan devisa negara. Keseimbangan antara risiko inflasi dan peluang ekspor menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter ke depan.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, kebijakan BI yang cenderung hawkish ini memberikan sinyal bahwa bank sentral berkomitmen menjaga stabilitas rupiah meskipun harus mengorbankan pertumbuhan jangka pendek. Pertanyaan yang muncul kemudian: seberapa lama BI mampu mempertahankan sikap ini jika tekanan global belum mereda? Dengan inflasi yang masih terkendali dan aliran modal asing yang positif, ruang bagi BI untuk tetap agresif masih terbuka. Namun, jika ketidakpastian berkepanjangan, bukan tidak mungkin BI akan kembali menaikkan suku bunga pada rapat-rapat berikutnya.



