Gugatan Hukum Hentikan Proyek Ballroom Gedung Putih Senilai US$400 Juta
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan banding AS memblokir pembangunan ballroom di Gedung Putih karena dianggap melanggar kewenangan Kongres.
- Keputusan ini merupakan kemenangan bagi kelompok pelestarian sejarah dan uji batas kekuasaan presiden.
- Kasus ini berpotensi berlanjut ke Mahkamah Agung, dengan implikasi terhadap proyek-proyek Trump lainnya.

Washington, D.C. โ Sebuah pengadilan banding federal Amerika Serikat pada Jumat (7/8) memerintahkan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menghentikan pembangunan ballroom senilai US$400 juta di lokasi bekas East Wing Gedung Putih. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Trump dalam kasus yang menguji batas kewenangan presiden.
Pengadilan Banding untuk Distrik Columbia, dengan suara 2-1, menguatkan putusan pengadilan sebelumnya yang memenangkan National Trust for Historic Preservation. Organisasi pelestarian sejarah ini menggugat setelah pemerintahan Trump merobohkan East Wing dan memulai pembangunan ballroom seluas 8.360 meter persegi tanpa persetujuan Kongres. Pengadilan memberikan waktu 14 hari bagi pemerintahan Trump untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung.
Sebelumnya, Hakim Distrik Richard Leon, yang ditunjuk oleh Presiden George W. Bush, dua kali memblokir konstruksi di atas tanah, namun mengizinkan pekerjaan bawah tanah. Leon menyatakan bahwa tidak ada undang-undang federal yang "bahkan mendekati" memberikan kewenangan kepada presiden untuk membangun ballroom tanpa persetujuan Kongres. Proyek ini merupakan bagian dari upaya Trump yang lebih luas untuk mengubah lanskap gedung-gedung pemerintahan di pusat kota Washington, termasuk penambahan namanya di Kennedy Center yang baru-baru ini diperintahkan untuk dihapus oleh hakim.
Dalam argumen di pengadilan pada 5 Juni, pengacara Departemen Kehakiman, Yaakov Roth, berpendapat bahwa pengadilan tidak memiliki peran dalam menilai proyek yang didanai swasta ini dan bahwa pemblokiran tersebut tidak tepat. Roth mengklaim bahwa preferensi arsitektural dari National Trust tidak boleh mengalahkan masalah keamanan nasional, dengan alasan bahwa East Wing yang lama membuat presiden dan staf rentan terhadap serangan. Namun, pengacara kelompok pelestari, Thaddeus Heuer, membantah: "Mereka hanya tidak mau pergi ke Kongres."
Trump membela proyek ini, yang biayanya telah berlipat ganda dari perkiraan awal. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan bahwa kenaikan biaya disebabkan oleh ukuran ballroom yang "kira-kira dua kali lebih besar dan kualitas yang jauh lebih tinggi" dari proposal awal, serta berjanji akan "megah, aman, dan terjamin!"
Konteks Indonesia: Kasus ini menyoroti pentingnya checks and balances dalam pemerintahan, sebuah prinsip yang juga relevan di Indonesia. Meskipun sistem presidensial di Indonesia memberikan kewenangan besar kepada presiden, tetap ada batasan yang diatur oleh konstitusi dan DPR. Proyek-proyek monumental yang digagas pemerintah sering kali menjadi sorotan publik, terutama jika melibatkan anggaran besar dan dampak terhadap warisan budaya. Di Indonesia, misalnya, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga memicu perdebatan tentang kewenangan eksekutif dan keterlibatan legislatif.
Keputusan pengadilan banding ini tidak hanya menghentikan proyek ballroom, tetapi juga menjadi preseden hukum yang signifikan. Jika kasus ini dibawa ke Mahkamah Agung, putusannya akan menentukan sejauh mana presiden dapat bertindak tanpa persetujuan Kongres dalam proyek-proyek yang berdampak pada aset nasional. Para pengamat hukum memperkirakan bahwa Mahkamah Agung, dengan mayoritas hakim konservatif, mungkin akan mendukung kewenangan presiden, namun keputusan sebelumnya menunjukkan bahwa pengadilan tidak segan untuk membatasi kekuasaan eksekutif.
Bagi Trump, kekalahan ini merupakan bagian dari serangkaian hambatan hukum yang dihadapinya, termasuk kasus-kasus lain yang menantang keputusannya. Pertanyaannya, apakah Trump akan mengambil langkah untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung, dan bagaimana putusan tersebut akan memengaruhi proyek-proyek ambisiusnya lainnya? Sementara itu, para pelestari sejarah dan pengamat politik akan terus memantau perkembangan kasus ini, yang bisa menjadi ujian penting bagi keseimbangan kekuasaan di Amerika Serikat.



