Rupiah Terjun Bebas ke Rp17.925, IHSG Ambles 2%: Pasar Keuangan RI Terkapar
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ambles lebih dari 2% pada Jumat (26/6/2026), menyentuh level Rp17.925 per dolar AS, terlemah dalam periode terakhir.
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terpuruk lebih dari 2% dalam perdagangan yang sama, mencerminkan tekanan luas di pasar keuangan domestik.
- Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global dan domestik yang saling bertaut, termasuk ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi dan kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Tekanan di pasar keuangan Indonesia mencapai titik nadir baru pada Jumat (26/6/2026) ketika nilai tukar rupiah ambles lebih dari 2% dan indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut terperosok ke zona merah. Rupiah diperdagangkan di level Rp17.925 per dolar AS, sementara IHSG anjlok lebih dari 2% dalam sehari.
Pergerakan ini menandai salah satu hari terburuk bagi pasar modal dan valuta asing tanah air dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menilai kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi pemicu utama aksi jual besar-besaran oleh investor asing maupun lokal.
Dari sisi global, ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama terus mendorong penguatan dolar AS. Hal ini membuat aset berdenominasi rupiah, termasuk saham dan obligasi, menjadi kurang menarik. Sementara itu, sentimen domestik ikut membebani setelah data ekonomi terbaru menunjukkan perlambatan pertumbuhan dan defisit transaksi berjalan yang melebar.
Analis FX CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, dalam program Power Lunch menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. “Sentimen risk-off masih mendominasi pasar global. Investor cenderung menghindari aset emerging market termasuk Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa intervensi Bank Indonesia melalui instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) belum cukup efektif menahan laju pelemahan.
Bagi investor ritel dan pelaku usaha di Indonesia, kondisi ini membawa risiko langsung. Biaya impor melonjak, utang perusahaan dalam dolar AS membengkak, dan daya beli masyarakat tertekan. Sektor properti, manufaktur, dan teknologi menjadi yang paling terpukul karena ketergantungan pada bahan baku impor dan pendanaan luar negeri.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS pekan depan serta keputusan suku bunga Bank Indonesia pada pertengahan Juli. Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, bukan tidak mungkin rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pertanyaannya, seberapa siap pemerintah dan otoritas moneter menghadapi skenario terburuk?



