IHSG Terjun Bebas ke 5.896, Terseret Inflasi AS dan Kenaikan Bunga Penjaminan LPS
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah 1,72% ke 5.896,13 pada Jumat (26/6), setelah sempat menyentuh level 6.045 di awal sesi.
- Tekanan jual dipicu data inflasi PCE AS yang memanas 4,1% dan kenaikan tingkat bunga penjaminan LPS menjadi 3,75%.
- Pasar khawatir The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, menekan aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk nyaris 2% pada perdagangan akhir pekan, Jumat (26/6/2026), setelah gagal mempertahankan penguatan awal dan berbalik melemah hingga ke level 5.896,13. Aksi jual massal terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat yang kembali memanas serta kebijakan domestik yang menekan likuiditas.
Sepanjang hari, IHSG sempat menembus level 6.045 pada sesi pertama, namun tekanan jual yang deras membuat indeks berbalik arah dan menyentuh titik terendah di 5.830. Sebanyak 562 saham tercatat melemah, sementara hanya 123 saham menguat dan 129 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp12,73 triliun dengan volume 20,79 miliar saham dalam 1,54 juta kali transaksi. Saham-saham seperti TPIA, BBCA, BMRI, DSSA, dan TLKM menjadi yang paling ramai diperdagangkan.
Hanya sektor finansial yang berhasil menguat, sementara sektor lain kompak tertekan. Utilitas menjadi yang paling parah dengan koreksi 6,45%, diikuti barang baku (-4,67%), konsumer non-primer (-2,80%), dan properti (-2,26%). Emiten pemberat utama IHSG adalah Barito Renewables Energi (BREN) yang menyumbang pelemahan 11,07 indeks poin, disusul EMAS (-9,54 poin), BRMS (-7,05 poin), dan DCII (-6,94 poin).
Dari eksternal, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada Mei 2026 tercatat 4,1% secara tahunan, jauh melampaui target The Fed sebesar 2% dan menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Ditambah dengan pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 yang direvisi naik menjadi 2,1% dan klaim pengangguran yang turun ke 215.000, pasar menilai The Fed akan semakin agresif dalam mempertahankan suku bunga tinggi. Hal ini berpotensi memperkuat dolar AS dan mengalihkan aliran dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kredibilitas penjaminan di tengah tekanan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kenaikan TBP ini dapat mendorong bank untuk menaikkan suku bunga deposito, yang berpotensi mengurangi likuiditas di pasar saham.
Pemerintah juga memastikan rencana penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan masih berjalan pada awal Juli 2026. Obligasi ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas akses ke pasar keuangan China. Meski demikian, sentimen positif dari rencana tersebut belum mampu membendung aksi jual yang terjadi hari ini.
Ke depan, investor akan mencermati data inflasi Indonesia serta respons Bank Indonesia terhadap tekanan eksternal. Jika The Fed benar-benar mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji level support psikologis 5.800. Pertanyaan besarnya, apakah kebijakan domestik seperti kenaikan TBP LPS dan penerbitan Panda Bond cukup kuat untuk menahan arus keluar modal asing?



