Harga Minyak Terkoreksi Imbas Pemulihan Lalu Lintas di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing turun 1,9% dan 2,1% setelah aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz pulih ke level tertinggi sejak Februari.
- Gencatan senjata AS-Iran pada 18 Juni mendorong lonjakan kapal komersial hingga 70 unit pada 24 Juni, mengurangi premi risiko geopolitik.
- Meski ada insiden proyektil di lepas Oman, analis memperkirakan harga minyak akan tetap tertekan dalam jangka pendek karena pasokan diprediksi lancar.

Harga minyak mentah dunia terkoreksi pada Jumat seiring pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang semakin padat pasca-gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan global dan menekan premi risiko geopolitik yang sebelumnya membumbungkan harga.
Brent, acuan internasional, diperdagangkan di level 74,08 dolar AS per barel, turun sekitar 1,9 persen dari penutupan sebelumnya di 75,50 dolar AS. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,1 persen menjadi 70,41 dolar AS per barel, dibandingkan 71,92 dolar AS pada sesi sebelumnya.
Data dari firma analitik Kpler menunjukkan bahwa 70 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni, menjadikannya hari tersibuk sejak 28 Februari. Volume lalu lintas lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya, dengan kapal tanker raksasa membawa setidaknya 11 juta barel minyak mentah yang berangkat dari pelabuhan di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, dan Iran.
Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, mengalami penurunan drastis setelah pecahnya konflik AS-Israel-Iran pada 28 Februari. Rata-rata penyeberangan kapal harian yang mencapai 130 unit sebelum konflik, merosot menjadi 78 pada hari pertama pertempuran dan sempat turun hampir 90 persen di bawah level pra-konflik.
Aktivitas pelayaran mulai pulih setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan 14 poin pada 14 Juni untuk mengakhiri konflik melalui negosiasi, dengan gencatan senjata efektif pada 18 Juni. Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian setelah Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman pada Kamis, yang merusak anjungan kapal. Tidak ada korban jiwa atau pencemaran yang dilaporkan.
Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengatakan Washington mengetahui insiden tersebut dan sedang menilai laporan yang ada. “Presiden Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengganggu kebebasan lalu lintas di Selat,” ujarnya.
Analis menilai pemulihan lalu lintas tanker memperkuat ekspektasi bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz akan berlanjut tanpa gangguan besar, sehingga menekan harga meskipun ketegangan regional masih ada. Mereka menambahkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah kemungkinan akan menjadi pendorong utama harga minyak dalam jangka pendek, sementara investor juga memantau dampak gempa bumi baru-baru ini terhadap produksi minyak Venezuela.
Bagi Indonesia, yang masih menjadi importir minyak bersih, penurunan harga ini dapat meringankan beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Namun, ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi membuat pergerakan harga tetap volatil. Pertanyaannya, akankah pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz berkelanjutan atau hanya bersifat sementara sebelum ketegangan baru muncul kembali?



