BTN Buka Peluang Buyback Saham untuk Program Karyawan, Harga Dianggap Terlalu Murah
Baca dalam 60 detik
- BTN mengkaji pembelian kembali saham untuk skema kompensasi karyawan, menyusul tekanan harga saham yang dinilai tidak mencerminkan fundamental.
- Langkah ini sejalan dengan dorongan Danantara agar BUMN perbankan aktif menciptakan nilai pemegang saham di tengah valuasi rendah.
- Selain buyback, BTN juga mengakuisisi portofolio kredit pensiunan dan karyawan BUMN senilai total Rp19,92 triliun dari Bank SMBC Indonesia.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) memberi sinyal akan melakukan pembelian kembali saham (buyback) untuk mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan. Langkah ini muncul di tengah valuasi saham yang dinilai terlalu rendah (undervalued) serta dorongan dari Danantara untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa opsi buyback tengah dikaji untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau opsi saham. "Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/6/2026). Nixon menambahkan, rencana ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tetapi akan diupayakan masuk dalam revisi RBB ke depan.
Keputusan BTN mempertimbangkan buyback tak lepas dari kondisi porsi saham publik yang sudah berada di batas minimum ketentuan. Dengan demikian, pembelian saham untuk program karyawan menjadi opsi yang lebih memungkinkan ketimbang buyback untuk mengurangi jumlah saham beredar. Langkah ini juga sejalan dengan pandangan Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria yang menilai buyback sebagai aksi korporasi wajar ketika harga saham belum merefleksikan fundamental perusahaan. "Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat," kata Dony.
Di luar rencana buyback, BTN juga tengah memperkuat fundamental melalui ekspansi anorganik. Pada 22 Mei 2026, perseroan menandatangani dua perjanjian pengalihan aset kredit dengan PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN). Melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA), BTN mengakuisisi portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan yang dikelola TASPEN senilai Rp12,58 triliun. Sementara melalui Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA), BTN mengakuisisi aset pinjaman terkait pensiunan ASABRI, dana pensiun lainnya, serta pinjaman karyawan aktif BUMN dan lembaga pemerintahan dengan estimasi nilai Rp7,34 triliun.
Langkah akuisisi ini menunjukkan strategi BTN untuk memperkuat pangsa pasar kredit pensiunan dan segmen karyawan BUMN, yang selama ini menjadi salah satu lini bisnis utama perseroan. Dengan tambahan portofolio tersebut, BTN berpotensi meningkatkan pendapatan bunga dan memperluas basis nasabah. Namun, integrasi portofolio dan risiko kredit tetap menjadi tantangan yang harus dikelola.
Bagi investor, sinyal buyback dan ekspansi ini memberikan gambaran bahwa manajemen BTN optimistis terhadap prospek jangka panjang, meskipun harga saham saat ini tertekan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah aksi korporasi ini cukup untuk mendorong revaluasi saham BBTN, atau justru akan menambah beban jika kondisi ekonomi memburuk. Dengan fundamental yang disebut solid, pasar akan mencermati realisasi rencana buyback dan hasil akuisisi dalam kinerja kuartal mendatang.



