Presiden FIGC Baru: Mendukung Klub Favorit Bukanlah Masalah, Lihat Saja Pangeran William
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Malagò, presiden baru FIGC, menegaskan loyalitasnya pada AS Roma dengan merujuk pada Pangeran William dan Barack Obama sebagai contoh figur publik yang tetap mendukung klub kesayangan.
- Malagò mengkritik mentalitas sempit yang menganggap pemimpin sepak bola harus netral, seraya mengakui sepak bola Italia saat ini dalam kondisi 'fosil' dan membutuhkan perubahan.
- Pernyataan ini memicu diskusi tentang batasan antara identitas pribadi dan peran institusional, relevan bagi penggemar sepak bola Indonesia yang sering menghadapi dilema serupa.

Giovanni Malagò, presiden baru Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), dengan tegas menolak anggapan bahwa seorang pemimpin sepak bola harus meninggalkan identitasnya sebagai suporter klub tertentu. Dalam konferensi pers perdananya, ia justru merujuk pada Pangeran William yang bersorak untuk Aston Villa dan mantan Presiden AS Barack Obama yang mendukung Chicago Bulls sebagai bukti bahwa loyalitas terhadap klub tidak bertentangan dengan profesionalisme.
Malagò, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden Komite Olimpiade Italia (CONI) selama 13 tahun, mengaku selalu bersikap institusional dalam perannya. “Tidak ada yang lebih buruk daripada seseorang yang menyangkal latar belakangnya sendiri, terutama ketika menyangkut keluarga,” ujarnya, seperti dikutip TMW. Ia menambahkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana seseorang bersikap, bukan klub mana yang didukungnya.
Pernyataan ini muncul setelah Malagò terpilih dengan hampir 69 persen suara dalam pemilihan FIGC. Ia langsung dihadapkan pada pertanyaan mengenai dukungannya yang terkenal terhadap AS Roma, termasuk kebiasaannya merayakan gol di Stadio Olimpico. Dengan nada tajam, ia menyebut pertanyaan tersebut sebagai “pola pikir yang sangat provinsial”.
Dalam kesempatan yang sama, Malagò juga mengakui bahwa sepak bola Italia saat ini berada dalam situasi yang “benar-benar fosil”. Ia menekankan perlunya reformasi struktural, namun mengaku belum melakukan pembicaraan dengan kandidat pelatih timnas Italia. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai masa depan kursi pelatih Gli Azzurri, terutama setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pernyataan Malagò relevan dengan perdebatan serupa di dalam negeri. Banyak tokoh publik, termasuk pejabat PSSI, yang kerap menjadi sorotan karena dukungan mereka terhadap klub tertentu. Kasus ini mengingatkan bahwa transparansi dan konsistensi sikap lebih penting daripada sekadar netralitas palsu. Di era media sosial, identitas pribadi dan peran publik semakin sulit dipisahkan, dan figur seperti Malagò justru memilih untuk merangkul keduanya.
Ke depan, tantangan terbesar Malagò adalah membuktikan bahwa ia dapat memimpin FIGC secara independen tanpa diintervensi oleh afiliasi klubnya. Akankah ia mampu mendorong reformasi yang dibutuhkan, atau justru terjebak dalam konflik kepentingan? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola Italia dalam beberapa tahun ke depan.



