Milly Alcock Bawa Warisan Christopher Reeve ke Layar Lebar Lewat Kostum Supergirl
Baca dalam 60 detik
- Aktris Milly Alcock mengaku sangat antusias bisa memberi penghormatan kepada Christopher Reeve melalui kostum Supergirl yang menggunakan bahan jubah identik dengan film Superman 1978.
- Untuk memerankan Kara Zor-El, ia menjalani latihan fisik ketat dan dua jam pelatihan aksi per hari, serta memuji tim efek visual yang menghidupkan Krypto.
- Film Supergirl garapan James Gunn ini diharapkan menghadirkan interpretasi segar yang mampu menarik beragam penonton, termasuk di Indonesia.

Milly Alcock, aktris berusia 26 tahun yang dikenal lewat perannya di House of the Dragon, mengaku mendapat kehormatan besar saat memerankan Supergirl dalam film terbaru garapan James Gunn. Bukan hanya karena peran ikonik tersebut, melainkan karena kostum yang dikenakannya mengandung elemen penghormatan mendalam kepada mendiang Christopher Reeve, sang Superman legendaris era 1978.
Dalam wawancara dengan Extra, Alcock mengungkapkan bahwa jubah merah yang ia kenakan sebagai Kara Zor-El dibuat dari bahan yang sama persis dengan jubah Reeve di film Superman 1978. "Sungguh mengasyikkan bisa secara fisik membawa bagian dari waralaba ini ke film baru. Itu detail indah yang dimasukkan oleh Anna, perancang kostum kami," ujarnya. Keputusan kreatif ini menjadi jembatan emosional antara generasi penggemar lama dan baru, sekaligus pengakuan atas fondasi yang dibangun Reeve.
Alcock juga menyoroti pendekatan segar yang diusung dalam film ini. "Saya berharap penonton jatuh cinta pada Kara seperti saya. Ini tafsiran yang benar-benar baru dan saya yakin akan terhubung dengan banyak orang dari latar berbeda," katanya. Pernyataan ini menegaskan ambisi tim produksi untuk tidak sekadar mengulang formula lama, melainkan menghadirkan Supergirl yang relevan dengan isu dan estetika kontemporer.
Persiapan fisik Alcock untuk peran ini terbilang intens. Ia mengaku berlatih setiap hari sebelum syuting dan menghabiskan dua jam sehari untuk pelatihan aksi selama pra-produksi. "Kedengarannya berat, tapi sebenarnya tidak. Ini lebih tentang membiasakan diri belajar cara berpura-pura memukul, lalu merangkainya dalam urutan, dan akhirnya beradu dengan aktor lain serta kru kamera. Saya sangat menikmati semua aksi itu," jelasnya. Dedikasi ini menunjukkan keseriusannya dalam membawakan karakter pahlawan super yang membutuhkan kemampuan fisik mumpuni.
Salah satu aspek yang paling dinantikan penggemar adalah kehadiran Krypto, anjing super setia Kara. Alcock memuji tim efek visual yang bekerja keras menciptakan makhluk digital yang tampak hidup. "Kami punya sedikit keajaiban film. Tim VFX yang fenomenal membangun Krypto yang akan dikenal dan dicintai semua orang di layar. Saya hanya perlu menggunakan imajinasi dan percaya bahwa kru akan menganimasikan makhluk ini menjadi sesuatu yang hidup dan bernapas," tuturnya.
Di balik kesuksesan audisinya, Alcock mengaku sempat dilanda keraguan. Dalam wawancara dengan Variety, ia mengingat momen saat bercermin dan bertanya pada diri sendiri, "Siapa aku sampai menolak kesempatan ini?" Ia sadar bahwa ketakutan justru menjadi alasan untuk maju. "Saya hanya punya satu kehidupan yang besar, buruk, dan indah. Kenapa tidak saya jalani?" katanya. Sikap berani ini menjadi cerminan semangat karakter yang ia mainkan.
Film Supergirl menjadi salah satu proyek paling dinanti dari DC Universe yang direboot oleh James Gunn. Bagi penonton Indonesia, film ini tidak hanya menawarkan hiburan aksi, tetapi juga pelajaran tentang keberanian dan menghormati warisan. Pertanyaannya, mampukah Alcock memenuhi ekspektasi tinggi penggemar yang telah lama menanti sosok Supergirl baru? Jawabannya akan terjawab saat film tayang di bioskop tahun depan.



