Serangan DDoS Hantui Peluncuran SAND: Raiders of Sophie, Pendapatan Tetap Tembus Rp15 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Game PvP SAND: Raiders of Sophie mengalami gangguan DDoS masif sejak rilis penuh, menyebabkan ulasan pengguna di Steam hanya sekitar 60% positif.
- tinyBuild, sang penerbit, mencatat pendapatan kotor US$1 juta dalam 12 jam pertama meski diserang, menunjukkan potensi pasar yang besar.
- Insiden ini menegaskan kerentanan industri game terhadap serangan siber, yang juga menjadi perhatian bagi pengembang dan gamer di Indonesia.

Peluncuran penuh game PvP (player versus player) SAND: Raiders of Sophie pada 23 Juni 2026 justru diwarnai gelombang serangan DDoS (Distributed Denial of Service) yang mengganggu pengalaman bermain ribuan pengguna. Alih-alih merayakan debut, pengembang dan penerbit tinyBuild harus berjibaku memulihkan server di tengah rentetan ulasan negatif di Steam.
Dalam pernyataan di akun X miliknya, CEO tinyBuild Alex Nichiporchik mengungkapkan bahwa dalam 12 jam pertama perilisannya, game tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan kotor sebesar US$1 juta atau setara lebih dari Rp15 miliar. Namun, pencapaian itu dibayangi serangan DDoS yang menurut Nichiporchik sangat masif. Tim teknis disebut bekerja tanpa hentiโhingga sang CEO berkomentar, โtidur itu kemewahan.โ
Serangan siber ini berdampak langsung pada rating game di Steam. Hingga saat ini, ulasan positif hanya berkisar 60 persen, jauh dari target ideal yang biasanya di atas 80 persen untuk game baru. Nichiporchik menegaskan bahwa rating rendah tersebut semata-mata akibat gangguan server, bukan kualitas konten game itu sendiri.
Fenomena serangan DDoS terhadap game baru sebenarnya bukan hal asing. Sejumlah judul besar seperti Elden Ring dan Lost Ark juga pernah mengalami nasib serupa saat peluncuran. Namun, kasus SAND: Raiders of Sophie menyoroti betapa rentannya infrastruktur game modern, terutama yang mengandalkan koneksi online penuh. Bagi pengembang independen atau penerbit skala menengah seperti tinyBuild, serangan semacam ini bisa menjadi pukulan reputasi yang sulit dipulihkan.
Di Indonesia, industri game online juga menghadapi ancaman serupa. Beberapa game lokal seperti Mobile Legends dan Free Fire pernah mengalami gangguan server akibat DDoS, meski biasanya cepat teratasi. Kasus SAND: Raiders of Sophie menjadi pengingat bagi pengembang Tanah Air untuk memperkuat sistem keamanan siber sejak fase pengembangan awal. Investasi pada perlindungan DDoS dan tim respons insiden kini bukan lagi opsional, melainkan kebutuhan mutlak.
Nichiporchik menutup cuitannya dengan semangat pantang menyerah: โkami terus bekerja, tidak bisa kalah jika tidak pernah menyerah.โ Pertanyaannya, akankah tim tinyBuild mampu memulihkan kepercayaan pemain sebelum gelombang ulasan buruk semakin menggerus potensi pendapatan jangka panjang? Atau justru serangan ini akan menjadi batu loncatan untuk memperbaiki sistem keamanan game di masa depan?



