Nikkei 225 Terjun Bebas, Yen Terancam Tembus Rekor Terendah 40 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei 225 ambles 3% dan Kospi Korea Selatan merosot 8,1% setelah AS mencabut sanksi terhadap Iran, memicu aksi jual massal di pasar Asia.
- Yen Jepang kembali mendekati level terlemah dalam 40 tahun di 161,7 per dolar AS, mendorong intervensi verbal dari Menteri Keuangan Jepang.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif di bawah Ketua baru Kevin Warsh membuat investor beralih ke aset defensif, meninggalkan saham teknologi.

Pasar saham Asia mengalami guncangan hebat pada Selasa (23/6) setelah Amerika Serikat secara mengejutkan mencabut sanksi terhadap Iran, memicu aksi jual besar-besaran di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan mengambil langkah agresif untuk mengendalikan inflasi. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 3%, sementara Kospi Korea Selatan ambles hingga 8,1%—menjadi salah satu koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Keputusan Washington mencabut sanksi terhadap Teheran langsung meredakan kekhawatiran pasokan minyak global. Harga minyak mentah Brent merosot 1,22% ke US$76,95 per barel, setelah sebelumnya turun lebih dari 3% dalam sepekan. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan Selat Hormuz telah dibuka kembali, mengakhiri ketegangan yang sempat mendorong harga energi ke level tertinggi.
Di pasar mata uang, yen Jepang kembali menjadi sorotan. Mata uang Negeri Sakura itu diperdagangkan di kisaran 161,665 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya dalam 40 tahun. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menggelar pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sehari sebelumnya untuk membahas fluktuasi mata uang yang tajam, menandakan kekhawatiran Tokyo akan dampaknya terhadap ekonomi domestik.
Tekanan terhadap yen diperparah oleh ekspektasi bahwa The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh akan mempercepat kenaikan suku bunga. Data FedWatch dari CME Group menunjukkan probabilitas setidaknya dua kenaikan 25 basis poin sebelum akhir tahun melonjak ke 54%, dari hanya 15,2% sepekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun bertahan di 4,501%, sementara indeks dolar AS menguat ke 101,08—level tertinggi sejak Mei 2025.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini memberikan sinyal waspada. Pelemahan yen dan penguatan dolar AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah, mengingat ketergantungan Indonesia pada impor barang modal dan bahan baku dari Jepang. Di sisi lain, aksi jual saham teknologi global—seperti yang terlihat pada Alphabet dan SpaceX di Wall Street—bisa merembet ke bursa domestik, terutama saham-saham berbasis digital dan startup yang terdaftar di BEI.
Chris Weston, kepala riset di Pepperstone Group, menilai pasar sedang mengalami pergeseran besar. "Investor meninggalkan saham-saham yang terlalu bergantung pada narasi AI dan beralih ke aset defensif dengan arus kas yang lebih stabil," ujarnya. Hal ini tercermin dari penurunan indeks MSCI Asia-Pasifik sebesar 2,9% dan futures S&P 500 yang turun 0,9%.
Di Eropa, sentimen negatif juga merambat. Indeks berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,96%, DAX Jerman melemah 1%, dan FTSE Inggris terkoreksi 0,95%. Poundsterling ikut tertekan setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya, membuka jalan bagi transisi kepemimpinan ke Andy Burnham.
Harga emas turun 1,75% ke US$4.118,55 per ons, sementara bitcoin dan ether masing-masing melemah 1,56% dan 1,17%. Semua aset berisiko kompak tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Pertanyaannya kini: akankah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, atau tekanan pasar akan memaksa mereka untuk mundur?



