Nikkei Anjlok Lebih dari 4% dalam Sehari, Aksi Ambil Untung Teknologi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei merosot 3.005 poin atau 4,15% pada Jumat (27/6), mencatat penurunan poin terbesar ketiga sepanjang sejarah bursa Tokyo.
- Tekanan jual dipicu aksi ambil untung di saham teknologi dan semikonduktor setelah reli sebelumnya, ditambah kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan di Selat Hormuz.
- Pelemahan Nikkei berpotensi memicu aksi jual di bursa Asia lain, termasuk Indonesia, mengingat integrasi pasar global dan sentimen investor yang masih rapuh.

Bursa saham Jepang, Nikkei, mengalami kejatuhan dramatis pada Jumat (27/6) dengan indeks utama sempat ambles lebih dari 5 persen, mencatat rekor penurunan poin terbesar ketiga dalam sejarah. Aksi ambil untung besar-besaran di saham teknologi dan semikonduktor, ditambah kekhawatiran kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik, menjadi pemicu utama aksi jual yang melanda pasar Tokyo.
Nikkei 225 ditutup merosot 3.005,46 poin (4,15 persen) ke level 69.360,88, setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 3.100 poin. Indeks Topix yang lebih luas juga turun 53,11 poin (1,32 persen) ke 3.963,36. Sektor yang paling terpukul di Prime Market adalah logam non-besi, informasi dan komunikasi, serta peralatan listrik, yang mencerminkan aksi jual massal di saham-saham berkapitalisasi besar.
Menurut Wataru Akiyama, strategis di Nomura Securities, penurunan ini didorong oleh aksi ambil untung di saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. “Beberapa saham yang sebelumnya tertinggal justru menunjukkan penguatan,” ujarnya, mengindikasikan pergerakan yang tidak merata di pasar. Sementara itu, saham SoftBank Group menjadi salah satu pemberat utama setelah laporan bahwa OpenAI, perusahaan yang didaninya, mempertimbangkan untuk menunda penawaran umum perdana (IPO) hingga tahun depan.
Tekanan tambahan datang dari kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menembus US$70 per barel. Pemicunya adalah laporan bahwa sebuah kapal terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak dunia. Kenaikan harga energi ini memperburuk sentimen investor yang sudah waspada terhadap risiko inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Pelemahan Nikkei kian dalam pada sesi sore setelah indeks Kospi Korea Selatan yang sarat teknologi juga turun, menular ke bursa Asia lainnya. Masahiro Ichikawa, kepala strategis pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, menilai aksi jual ini lebih merupakan penyesuaian posisi setelah kekhawatiran overheating di pasar saham Jepang. “Pasar Jepang sudah terlalu panas, sehingga koreksi ini wajar,” katanya.
Bagi pasar Indonesia, koreksi Nikkei menjadi sinyal waspada. Sebagai salah satu bursa terbesar di Asia, pergerakan Nikkei kerap memengaruhi aliran modal asing ke pasar emerging market, termasuk IHSG. Jika aksi jual berlanjut, investor asing mungkin akan mengurangi eksposur di Asia, termasuk Indonesia. Namun, di sisi lain, pelemahan yen bisa mendorong ekspor Jepang dan secara tidak langsung menguntungkan rantai pasok Indonesia di sektor otomotif dan elektronik.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga Bank of Japan. Apakah koreksi ini hanya bersifat sementara atau awal dari tren bearish jangka panjang? Jawabannya tergantung pada data ekonomi global dan keputusan bank sentral dalam beberapa pekan mendatang.



