PDIP Sindir Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode: Jangan Terlalu Dini Membicarakan Pemilu 2029
Baca dalam 60 detik
- PDIP menilai wacana Prabowo-Gibran dua periode yang digaungkan PSI hanya strategi mencari perhatian publik.
- Politikus PDIP Deddy Yevri Sitorus meragukan kesediaan Prabowo untuk kembali berpasangan dengan Gibran di Pilpres 2029.
- PDIP mengingatkan pemerintah dan partai politik untuk fokus menyelesaikan masalah rakyat ketimbang berpolemik soal kontestasi elektoral yang masih jauh.

Wacana Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali berpasangan pada Pemilihan Presiden 2029 menuai respons sinis dari kubu PDI Perjuangan. Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus menilai isu yang dilontarkan Partai Solidaritas Indonesia itu hanyalah taktik untuk mencuri perhatian publik di tengah hiruk-pikuk politik nasional.
Menurut Deddy, PSI memiliki kebiasaan memanfaatkan isu populer atau menyerang partai lain demi menjadi pusat pembicaraan. "Mereka tidak membesarkan partai dengan kerja nyata, tapi dengan cara menumpang pada figur atau isu tertentu. Sekarang mereka coba mengangkat wacana dua periode Prabowo-Gibran agar publik melirik PSI," ujar Deddy di kompleks parlemen, Selasa (23/6).
Lebih jauh, Deddy justru mempertanyakan apakah Prabowo sendiri bersedia kembali berduet dengan Gibran. "Pertanyaan saya, apa Pak Prabowo sudah pasti mau? Tanya dulu kepada beliau sebelum ramai-ramai berkampanye," katanya. Ia menegaskan bahwa Pemilu 2029 masih terlalu lama untuk dibahas, sementara pemerintah dan partai politik saat ini dihadapkan pada berbagai persoalan mendesak.
Deddy mengkritik langkah PSI yang dinilainya tidak sabar dan kurang peka terhadap situasi kebangsaan. "Jawab dulu persoalan-persoalan masyarakat, seperti tindak lanjut tuntutan mahasiswa. Jangan langsung melompat ke Pemilu 2029. Pemerintah saja masih pusing dengan urusan rakyat," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali justru optimistis pasangan Prabowo-Gibran akan kembali bertarung di kontestasi mendatang. Dalam siniar What the Fact Politics CNN Indonesia, Jumat (19/6), Ali mengaku tidak yakin Prabowo akan melepas Gibran. "Saya tidak melihat alasan bagi Pak Prabowo untuk tidak mengambil kembali Mas Gibran. Di antara kandidat cawapres yang ada, Gibran adalah yang paling mentereng," ujarnya.
Ali menambahkan, PSI sebagai partai pendukung setia Prabowo-Gibran akan terus mendorong duet tersebut. Ia menolak berspekulasi mengenai kemungkinan perpisahan keduanya, dan menegaskan bahwa partainya berkomitmen pada pasangan yang telah memenangkan Pilpres 2024 itu.
Wacana ini muncul di tengah dinamika politik yang masih dipengaruhi oleh figur Joko Widodo. Gibran, yang merupakan putra sulung Presiden ke-7 RI, juga merupakan kakak dari Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep. Hal ini menambah dimensi familial dalam peta koalisi partai politik menjelang Pemilu 2029.
Pertanyaan besarnya, apakah Prabowo akan setuju dengan skenario yang digagas PSI? Atau justru akan ada kejutan politik yang mengubah peta koalisi? Publik masih harus menunggu sikap resmi dari Istana dan partai-partai koalisi lainnya.



