Kekalahan Langka di RUPS: Pemegang Saham Nissan Tolak Calon Dewan dari Mizuho
Baca dalam 60 detik
- Pemegang saham Nissan memblokir pencalonan kembali Motoo Nagai, mantan eksekutif Mizuho, sebagai anggota dewan eksternal dalam RUPS tahunan.
- Renault, pemegang saham terbesar Nissan, abstain dalam pemungutan suara untuk Nagai dan Shinbo, memicu kekhawatiran tentang independensi manajemen.
- Langkah ini menambah tekanan pada CEO Ivan Espinosa yang tengah menjalankan restrukturisasi besar setelah dua tahun kerugian bersih.

Pemegang saham Nissan Motor Co. secara mengejutkan menolak pencalonan kembali seorang anggota dewan eksternal dalam rapat umum tahunan (RUPS) yang digelar Selasa lalu. Penolakan terhadap Motoo Nagai, mantan petinggi Mizuho Financial Group, menjadi sinyal langka bahwa investor mulai enggan memberikan dukungan penuh kepada jajaran direksi yang diusulkan manajemen.
Keputusan ini sebagian besar dipicu oleh sikap abstain dari Renault SA, pemegang saham terbesar Nissan. Pabrikan asal Prancis itu memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya atas pencalonan Nagai dan Junichi Shinbo, keduanya eks eksekutif Mizuho. Langkah Renault dinilai sebagai bentuk kekhawatiran terhadap independensi manajemen, mengingat hubungan bisnis erat antara kedua perusahaan.
Dalam RUPS yang berlangsung di kantor pusat Nissan di Yokohama, manajemen mengusulkan 12 anggota dewan termasuk Presiden dan CEO Ivan Espinosa. Tiga calon direktur eksternal baru diajukan, salah satunya Akiyoshi Koji, Ketua Asahi Group Holdings. Sebelas dari 12 calon akhirnya disetujui, dengan Nagai menjadi satu-satunya yang gagal.
Lembaga penasihat proxy asal Amerika Serikat, Institutional Shareholder Services Inc., sebelumnya juga merekomendasikan penolakan terhadap Nagai dan Shinbo. Rekomendasi ini memperkuat resistensi investor terhadap figur yang dianggap terlalu dekat dengan mitra strategis Nissan.
CEO Espinosa dalam pidatonya menekankan bahwa upaya perbaikan bisnis mulai membuahkan hasil meskipun persaingan ketat dan kondisi pasar menantang. Namun, pernyataan itu tidak sepenuhnya meredam kritik. Sejumlah pemegang saham justru menuntut pencopotan Espinosa dan anggota dewan lainnya, menilai pemulihan bisnis masih jauh dari harapan. Nissan memang mencatat dua tahun kerugian bersih berturut-turut, dan harga saham yang lesu membuat investor frustrasi.
Bagi Indonesia, dinamika tata kelola Nissan ini relevan mengingat posisi Jepang sebagai salah satu mitdagang utama dan investor di sektor otomotif. Nissan sendiri memiliki pangsa pasar signifikan di Indonesia melalui model-model seperti Grand Livina dan Serena. Jika restrukturisasi Nissan berjalan mulus, pasokan dan harga kendaraan di pasar domestik bisa lebih stabil. Sebaliknya, gejolak internal berpotensi mengganggu strategi ekspansi dan inovasi produk yang dinanti konsumen Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tekanan pemegang saham akan mendorong perubahan lebih radikal di jajaran direksi Nissan. Dengan Renault yang mulai menunjukkan sikap kritis, keseimbangan kekuasaan di dalam dewan bisa bergeser. Satu hal yang pasti: investor tidak lagi segan memberikan sinyal ketidakpuasan, dan Nissan harus berbenah lebih cepat jika ingin mempertahankan kepercayaan pasar.



