Yen Jepang di Ambang Rekor Terendah 40 Tahun, Tokyo Siap Intervensi
Baca dalam 60 detik
- Yen Jepang menyentuh level 161,93 per dolar AS, mendekati titik terendah sejak Desember 1996, dipicu perang Timur Tengah dan selisih suku bunga AS-Jepang.
- Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengisyaratkan intervensi pasar setelah berdiskusi dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menyusul pengeluaran US$70 miliar untuk menopang yen bulan lalu.
- Pelemahan yen mendorong lonjakan turis asing ke Jepang, namun membebani impor energi dan berpotensi memicu tekanan inflasi di Indonesia melalui rantai pasok global.

Yen Jepang nyaris menyentuh titik terendah dalam 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (23/6), memicu pernyataan tegas dari Tokyo bahwa mereka siap mengambil langkah-langkah resolute untuk menstabilkan mata uang. Nilai tukar yen sempat merosot ke 161,93 per dolar AS, hanya selembar di bawah level 161,96 yang terakhir terlihat pada Desember 1996.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, setelah berbicara dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menegaskan bahwa kedua negara sepakat untuk mengambil tindakan tegas jika diperlukan. Pernyataan ini muncul setelah Jepang dilaporkan telah menghabiskan lebih dari US$70 miliar untuk intervensi pasar bulan lalu guna menopang yen. Pada perdagangan Selasa sore di Tokyo, yen sedikit pulih ke kisaran 161,60 per dolar.
Pelemahan yen yang berkepanjangan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk perang di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian global, serta perbedaan suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS. Bank of Japan (BoJ) pekan lalu menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, namun langkah tersebut dinilai belum cukup agresif untuk membalikkan tren.
Analis MUFG, Michael Wan, menilai bahwa perubahan fundamental diperlukan untuk pergeseran yang bertahan lama. "Pada akhirnya, fundamental suku bunga riil yang rendah dibandingkan dengan AS harus berubah," ujarnya. Ia menambahkan bahwa BoJ perlu memberikan sinyal hawkish yang lebih kuat untuk meyakinkan pasar, terutama setelah Federal Reserve AS juga mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
Namun, langkah BoJ untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut menghadapi potensi resistensi dari pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang khawatir biaya pinjaman tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Dilema ini mencerminkan tantangan Jepang dalam menyeimbangkan stabilitas mata uang dengan stimulus ekonomi.
Bagi Indonesia, pelemahan yen membawa implikasi ganda. Di satu sisi, yen yang lemah membuat produk Jepang lebih murah, berpotensi menekan harga impor barang modal dan elektronik. Namun, di sisi lain, jika yen terus melemah dan memicu ketidakstabilan pasar keuangan global, Indonesia bisa terkena dampak melalui arus modal keluar dan tekanan pada rupiah. Selain itu, kenaikan harga energi global akibat perang Timur Tengah, yang diperparah oleh lemahnya yen bagi Jepang sebagai importir minyak, dapat mendorong inflasi impor ke Indonesia.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah BoJ akan berani menaikkan suku bunga lebih agresif meskipun ada tekanan politik, atau justru memilih intervensi pasar yang lebih masif. Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib yen, tetapi juga stabilitas pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.



