Rupiah Bangkit dari Tekanan, Ditutup Menguat Tipis di Rp17.905 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Rupiah berbalik menguat 0,06% ke Rp17.905/US$ setelah sempat tertekan hingga nyaris menembus Rp18.000.
- Indeks dolar AS melemah 0,08% ke 101,34, menghentikan reli tiga hari berturut-turut, seiring data inflasi PCE AS yang sesuai ekspektasi.
- Pemerintah Indonesia bersiap menerbitkan Panda Bond berdenominasi yuan untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan terhadap dolar AS.

Rupiah berhasil memulihkan diri dari tekanan berat dan ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir pekan, setelah sempat menyentuh level terlemah harian yang hanya terpaut tipis dari batas psikologis Rp18.000.
Berdasarkan data Refinitif, nilai tukar rupiah pada Jumat (26/6/2026) ditutup di level Rp17.905 per dolar AS, menguat 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi ini berbalik arah dari pembukaan pagi hari yang melemah 0,20% ke Rp17.950/US$. Bahkan, di tengah perdagangan, rupiah sempat terperosok hingga Rp17.985/US$, hanya 15 poin dari level Rp18.000.
Penguatan tipis ini terjadi seiring koreksi indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,08% ke 101,34 pada pukul 15.00 WIB. Indeks dolar menghentikan reli penguatan tiga hari beruntun setelah data inflasi Amerika Serikat, Personal Consumption Expenditures (PCE), dirilis sesuai ekspektasi. PCE Mei 2026 tercatat naik 4,1% secara tahunan, menandakan tekanan biaya hidup di AS masih tinggi, terutama didorong oleh kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari.
Di tengah volatilitas nilai tukar, pemerintah Indonesia terus mendorong strategi diversifikasi sumber pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Salah satu langkah konkret adalah rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China, atau yang dikenal sebagai Panda Bond.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, mengungkapkan bahwa penerbitan Panda Bond bertujuan untuk memperluas basis pembiayaan negara. "Dengan diversifikasi ini, risiko beban APBN dari fluktuasi nilai tukar dapat dikurangi, dan kita bisa meminimalkan dampak ketergantungan pada dolar AS," ujarnya di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Herman menambahkan, China menjadi mitra yang menarik karena permintaan terhadap surat utang Indonesia cukup tinggi dengan harga yang sejalan dengan fundamental ekonomi nasional. Skema ini juga memungkinkan transaksi menggunakan Local Currency Transaction (LCT), sehingga tidak perlu dikonversi ke dolar AS terlebih dahulu.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Panda Bond merupakan bagian integral dari strategi diversifikasi utang pemerintah. Langkah ini dinilai strategis di tengah ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar yang masih membayangi.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS, terutama kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta perkembangan konflik Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi. Di sisi domestik, keberhasilan penerbitan Panda Bond dan perluasan LCT akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi kerentanan fiskal terhadap guncangan eksternal.



