KOSPI Ambruk 10%: Gelembung AI Mulai Pecah, Pasar Global Guncang
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 10% pada Senin (23/6/2026) di bawah level 9.000 poin, dipicu kekhawatiran monetisasi AI oleh raksasa teknologi AS.
- Investor asing dan institusi melakukan aksi jual besar-besaran, dengan nilai jual bersih mencapai 1,8 triliun won, sementara investor ritel justru membeli.
- Pergeseran kapitalisasi pasar antara SK hynix dan Samsung Electronics mengingatkan pada era dot-com, namun analis menilai fundamental laba masih kuat.

Bursa saham Korea Selatan mengalami hari terburuk dalam setahun terakhir pada Senin (23/6/2026) ketika indeks KOSPI ambruk hingga 10% ke level 8.203, menembus batas psikologis 9.000 poin. Kekhawatiran bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) tidak akan segera menghasilkan keuntungan yang sepadan memicu aksi jual massal di pasar global, merembet dari Wall Street ke Seoul.
Data dari Korea Exchange (KRX) menunjukkan indeks dibuka di 9.083,54, langsung tertekan oleh gelombang jual investor asing dan institusi. Nilai jual bersih asing mencapai 1,18 triliun won hingga 1,8 triliun won pada awal sesi, sementara institusi melepas saham senilai 65 miliar won hingga 205 miliar won. Perdagangan program juga mencatat aksi jual lebih dari 1,67 triliun won, membuat indeks kehilangan hampir 900 poin dalam sehari. Satu-satunya pihak yang melakukan pembelian adalah investor ritel, dengan akumulasi bersih antara 1,24 triliun won hingga 1,97 triliun won, namun tidak mampu membendung tekanan.
Koreksi ini dipicu oleh aksi jual di Nasdaq yang anjlok 1,33% pada akhir pekan lalu, setelah Alphabet merosot 4,99% dan SpaceX ambruk 16,43% akibat kabar penerbitan obligasi besar. Pelaku pasar mulai meragukan efektivitas belanja modal AI yang membengkak di perusahaan teknologi AS. Sentimen negatif dengan cepat menyebar ke Korea Selatan, yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor semikonduktor dan teknologi.
Fenomena menarik terjadi pada dua raksasa semikonduktor Korea. SK hynix untuk pertama kalinya dalam 25 tahun melampaui kapitalisasi pasar Samsung Electronics, sebelum akhirnya ikut terpuruk. Saham Samsung Electronics dibuka melemah 0,57% ke 351.500 won dan terus merosot hingga 12,31% menjelang penutupan. SK hynix sempat menguat 0,31% berkat kenaikan indeks semikonduktor Philadelphia dan lonjakan saham Micron di AS, namun berbalik anjlok 12,47% seiring pelemahan pasar. Sebagian pelaku pasar membandingkan peristiwa ini dengan era dot-com tahun 2000, ketika Cisco sempat melampaui Microsoft sebelum pasar terkoreksi besar. Namun, analis Kiwoom Securities Han Ji-young menilai kondisi saat ini berbeda karena reli AI masih didukung oleh pertumbuhan laba yang solid. "Fokus investor seharusnya bukan pada pergantian posisi kapitalisasi pasar, melainkan apakah kenaikan harga saham didorong oleh valuasi berlebihan atau fundamental laba," ujarnya.
Di tengah kehancuran sektor semikonduktor, beberapa saham justru mencatat penguatan. LG Energy Solution naik 2,59%, Samsung Life Insurance melonjak 5,44%, dan Samsung C&T menguat 3,46%. Saham Hyundai Motor justru turun 0,86% akibat aksi ambil untung investor asing setelah kenaikan signifikan sebelumnya. Pasar juga tertekan oleh penguatan dolar AS yang mendorong kurs won melemah ke level 1.539,4 per dolar AS. Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat meningkatkan risiko kerugian nilai tukar bagi investor asing, memicu arus keluar dana dari pasar saham Korea. Sementara itu, harga komoditas ikut melemah: minyak WTI turun 2,32% ke US$74,82 per barel, dan emas berjangka turun 1,10% ke US$4.199,10 per ons, dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik AS-Iran dan penguatan dolar.
Bagi investor Indonesia, koreksi KOSPI menjadi pengingat akan kerentanan pasar emerging terhadap sentimen global, terutama yang terkait dengan sektor teknologi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga memiliki eksposur terhadap saham teknologi dan komoditas perlu diwaspadai. Jika kekhawatiran monetisasi AI berlanjut, arus modal asing bisa keluar dari pasar Indonesia, menekan rupiah dan IHSG. Namun, analis menilai koreksi ini masih bersifat konsolidasi setelah reli panjang, bukan awal tren bearish jangka panjang. Pertanyaan kuncinya: akankah perusahaan teknologi seperti Samsung dan SK hynix mampu membuktikan bahwa investasi AI mereka menghasilkan laba nyata, ataukah ini awal dari gelembung yang pecah?



