Data Pabrik iPhone di India Bocor: Ransomware World Leaks Klaim Kuasai Rahasia Apple dan Tesla
Baca dalam 60 detik
- Grup ransomware World Leaks mengaku telah membocorkan lebih dari 200.000 file milik Tata Electronics, pemasok komponen Apple dan Tesla, yang diunggah di dark web.
- Dokumen yang bocor mencakup spesifikasi desain, data pabrik, hingga rahasia dagang Tesla dan Apple, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan rantai pasok global.
- Insiden ini menjadi ujian bagi ambisi India menjadi pusat manufaktur elektronik, sekaligus mengingatkan Indonesia akan kerentanan keamanan siber di sektor industri strategis.

Serangan siber terhadap Tata Electronics, salah satu pemasok utama Apple dan Tesla di India, mengguncang industri teknologi global setelah grup ransomware World Leaks mengklaim telah membocorkan lebih dari 200.000 file rahasia ke dark web. Insiden yang terdeteksi beberapa pekan lalu ini tidak hanya mengancam data sensitif dua raksasa teknologi Amerika Serikat, tetapi juga mempertanyakan kesiapan India dalam mengamankan rantai pasok manufaktur kelas dunia.
Menurut pernyataan resmi Tata Electronics pada Senin (22/6), serangan siber yang terjadi pada beberapa sistem internal perusahaan telah segera ditangani tanpa mengganggu operasional bisnis. Namun, para peneliti keamanan siber yang memantau dark web menemukan bahwa World Leaks—grup yang sebelumnya bertanggung jawab atas peretasan Nike—telah mengunggah data yang diklaim berasal dari Tata Electronics. Data tersebut mencakup lebih dari 630 gigabyte file, termasuk dokumen desain komponen, spesifikasi material, dan korespondensi internal.
Sejumlah file yang bocor diduga kuat memuat rahasia dagang Apple dan Tesla. Seorang sumber yang mengetahui penyelidikan Apple mengatakan bahwa perusahaan sedang melakukan analisis penuh atas kebocoran ini, dan Tata Electronics telah menerima permintaan tebusan dari peretas. Baik Apple maupun Tesla menolak berkomentar, sementara Tata Electronics enggan membahas soal uang tebusan. Insiden ini menjadi pukulan terbaru bagi rantai pasok Apple di India, yang sebelumnya juga diterpa isu pencemaran lahan pertanian di dekat pabrik komponen iPhone milik Tata.
Peneliti keamanan siber India, Rajshekhar Rajaharia, yang meninjau file-file tersebut, menemukan bahwa data yang bocor tidak hanya berisi dokumen teknis, tetapi juga email, log peristiwa selama bertahun-tahun, dan salinan paspor karyawan asing. Sementara itu, peneliti lain, Rakesh Krishnan, mengonfirmasi bahwa data tersebut telah dapat diakses di dark web sejak 10 Juni lalu. Salah satu folder yang mencurigakan diberi label "NV36 Chargeport Controller - North America", yang merujuk pada komponen pengisi daya untuk Tesla Model Y versi terbaru. Dokumen lain bertajuk "TRADE SECRET" memuat gambar teknis proyek Highland—nama kode untuk Tesla Model 3 yang direvitalisasi.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan keamanan siber di sektor manufaktur bernilai tinggi. Dengan ambisi Indonesia menjadi pusat produksi baterai kendaraan listrik dan elektronik, kasus Tata Electronics menunjukkan bahwa perlindungan data dan kekayaan intelektual harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) perlu memperkuat pengawasan terhadap perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri, terutama yang terintegrasi dalam rantai pasok global. Kegagalan dalam mengamankan data tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga dapat merusak kepercayaan investor internasional.
World Leaks, yang hanya dapat diakses melalui dark web, mengklaim bahwa data yang dipublikasikan adalah milik Tata Electronics. Meskipun Reuters belum dapat memverifikasi keaslian data tersebut, bukti awal menunjukkan bahwa file-file itu memuat footer yang menyatakan "dokumen ini berisi informasi rahasia dan milik Apple Inc." serta "informasi yang terkandung di sini dianggap rahasia, milik, dan rahasia dagang Tesla Inc." Di antara file yang bocor terdapat dokumen setebal 52 halaman yang memuat standar inspeksi kualitas komponen papan sirkuit iPhone, serta 33 file dan folder yang terkait dengan "Hosur"—lokasi pabrik perakitan iPhone utama Tata di Tamil Nadu.
Ke depannya, serangan siber seperti ini diprediksi akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya digitalisasi industri manufaktur. Pertanyaan besarnya adalah: mampukah perusahaan dan pemerintah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membangun pertahanan siber yang setara dengan ancaman yang terus berevolusi? Ataukah insiden Tata Electronics hanyalah awal dari gelombang peretasan yang menargetkan rantai pasok global?



