Hoaks Warna Ikon Profil WhatsApp: Bukan Indikator Blokir, Hanya Estetika
Baca dalam 60 detik
- Video viral yang mengklaim warna ikon profil WhatsApp menandakan status blokir dipastikan palsu oleh pakar keamanan siber.
- Meta secara acak mengatur warna ikon bawaan sebagai pembaruan visual, tanpa kaitan dengan status akun pengguna.
- Masyarakat diimbau tidak mudah percaya informasi yang beredar tanpa verifikasi resmi dari sumber terpercaya.

Klaim yang menyebut perbedaan warna ikon profil WhatsApp—hijau, biru, merah, dan hijau muda—sebagai penanda status pemblokiran atau keaktifan akun adalah informasi yang tidak benar. Video yang viral di media sosial tersebut telah dibantah oleh pakar keamanan siber dan pihak pengembang aplikasi.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa variasi warna pada ikon profil bawaan WhatsApp tidak memiliki arti khusus. Meta, perusahaan induk WhatsApp, sengaja mengacak warna tersebut sebagai bagian dari pembaruan estetika visual. Sebelumnya, ikon profil bawaan WhatsApp hanya menampilkan siluet putih dan abu-abu yang seragam.
Ikon bawaan ini muncul ketika pemilik akun tidak menyimpan nomor kontak, diblokir, atau dikecualikan dari tampilan profil. Namun, perubahan warna yang terjadi belakangan ini murni bersifat kosmetik dan tidak berkaitan dengan status akun. Hal ini dikonfirmasi oleh laporan dari Tempo.co pada Selasa, 23 Juni 2026.
Fenomena penyebaran hoaks semacam ini bukanlah hal baru di Indonesia. Masyarakat kerap kali terjebak pada informasi yang tidak berdasar, terutama yang berkaitan dengan aplikasi pesan instan yang digunakan sehari-hari. WhatsApp, sebagai platform dengan pengguna terbesar di Indonesia, sering menjadi sasaran misinformasi. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci untuk menyaring informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui kanal resmi Polri juga telah mengonfirmasi bahwa klaim tersebut adalah hoaks. Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa kebenaran informasi melalui sumber resmi atau situs fact-checking terpercaya. Jangan mudah percaya pada video atau unggahan yang tidak jelas asal-usulnya.
Ke depannya, pengguna WhatsApp di Indonesia perlu lebih kritis terhadap informasi yang beredar. Apakah perubahan estetika semacam ini akan terus dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks? Yang jelas, verifikasi mandiri dan sikap skeptis terhadap klaim yang tidak masuk akal adalah benteng terbaik melawan misinformasi.



