Ibu dan Anak Jadi Sasaran Bom Molotov di Jakut, Polisi Kejar Empat Pelaku
Baca dalam 60 detik
- Seorang ibu yang membonceng anaknya di Koja, Jakarta Utara, menjadi korban pelemparan bom molotov hingga sepeda motor terbakar.
- Polisi telah mengidentifikasi empat pelaku dari rekaman CCTV dan mengamankan pecahan botol molotov sebagai barang bukti.
- Motif pelemparan masih didalami, sementara korban selamat namun mengalami kerugian material.

Seorang ibu yang tengah membonceng anaknya di sebuah gang sempit di Koja, Jakarta Utara, menjadi korban pelemparan bom molotov pada Senin pagi, 22 Juni 2025. Peristiwa yang terekam kamera pengawas itu viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik atas meningkatnya aksi kriminalitas di permukiman padat penduduk.
Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @jakut.info, korban terlihat melintas dengan sepeda motor menuju pasar. Empat pria yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan tiba-tiba melemparkan botol berisi api ke arah korban. Botol tersebut mengenai dashboard sepeda motor hingga terbakar, menyebabkan korban panik dan terjatuh. Warga sekitar yang berkumpul segera berusaha mengejar para pelaku, namun mereka berhasil melarikan diri.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengonfirmasi bahwa insiden terjadi di Jalan Mandiri II, Kelurahan Rawa Badak Selatan, sekitar pukul 09.00 WIB. "Korban seorang perempuan yang sedang membonceng anaknya mengalami luka ringan akibat terjatuh, namun bagian dashboard motornya hangus terbakar," ujar Budi kepada wartawan, Selasa (23/6).
Polsek Koja telah memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi dan mengamankan pecahan botol molotov sebagai barang bukti. Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku diduga berjumlah empat orang yang telah direkam wajahnya. "Kami masih melakukan identifikasi dan pengejaran terhadap para pelaku. Motif pelemparan juga masih didalami," kata Budi.
Aksi pelemparan bom molotov di ruang publik, terutama yang menyasar ibu dan anak, menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan lingkungan. Pengamat kriminalitas Universitas Indonesia, Dr. Adrianus Meliala, menilai bahwa tindakan semacam ini sering kali dipicu oleh konflik pribadi atau kelompok, namun bisa juga merupakan bagian dari kejahatan jalanan yang terorganisir. "Polisi perlu segera menangkap pelaku untuk mencegah aksi serupa dan memberikan rasa aman bagi warga," ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa aksi kriminalitas di permukiman padat masih menjadi tantangan bagi aparat. Warga sekitar berharap polisi dapat mengungkap motif di balik pelemparan tersebut dan menindak tegas para pelaku. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah ini aksi terisolasi atau bagian dari tren kekerasan yang lebih luas di ibu kota?



